Review Film Surga Yang Tak Dirindukan

review-film-surga-yang-tak-dirindukan

Review Film Surga Yang Tak Dirindukan. Rilis Juli 2015, Surga Yang Tak Dirindukan langsung meledak dengan lebih dari 2,5 juta penonton dan jadi salah satu film religi-romansa paling sukses sepanjang masa di Indonesia. Diadaptasi dari novel Asma Nadia, film garapan Kuntz Agus ini berhasil bikin penonton nangis, mikir, sekaligus debat panjang soal poligami, pengorbanan, dan makna rumah tangga. Sampai 2025, film ini masih rutin diputar tiap bulan Ramadan atau Hari Ibu dan terus jadi bahan diskusi di grup keluarga. BERITA BOLA

Akting Laudya Cynthia Bella, Fedi Nuril, dan Raline Shah yang Mengguncang: Review Film Surga Yang Tak Dirindukan

Laudya Cynthia Bella sebagai Arini benar-benar luar biasa: istri penyabar, lembut, tapi punya kekuatan luar biasa saat tahu suaminya punya istri lain. Air matanya di adegan “aku rela demi surga suamiku” masih sering bikin orang menangis sampai sesenggukan. Fedi Nuril sebagai Pras juga berhasil bikin penonton benci sekaligus kasihan; wajah bingungnya saat terjebak antara dua cinta terasa sangat manusiawi. Raline Shah sebagai Meirose, istri kedua yang awalnya nggak tahu apa-apa, sukses bikin penonton ikut geregetan lalu akhirnya iba. Chemistry ketiganya bikin konflik terasa nyata, bukan cuma drama murahan.

Isu Poligami yang Disajikan Tanpa Judgement: Review Film Surga Yang Tak Dirindukan

Film ini berani banget angkat poligami secara frontal, tapi nggak memihak. Ia tunjukkan sisi indahnya (pengorbanan Arini demi ridho suami), sisi pahitnya (Meirose yang hancur saat tahu dirinya cuma istri kedua), dan sisi abu-abunya (Pras yang terjebak nafsu dan rasa bersalah). Adegan Arini memeluk Meirose sambil bilang “kita sama-sama mencintai dia” atau Meirose menangis di kamar mandi sambil buka jilbab adalah momen-momen yang sampai sekarang masih sering dikutip di kajian atau ceramah. Film ini nggak bilang poligami baik atau buruk, tapi bikin penonton bertanya sendiri: “Kalau gue jadi Arini, gue rela nggak?”

Visual dan Musik yang Menyentuh Jiwa

Sinematografi sederhana tapi penuh makna: rumah Arini yang hangat penuh cahaya kuning, rumah Meirose yang dingin dan sepi, sampai rumah sakit yang bikin hati sesak. Musik dari Melly Goeslaw dan Andi Rianto, terutama lagu “Surga Yang Tak Dirindukan” dan “Kisah Kasih di Sekolah” versi baru, langsung bikin bulu kuduk berdiri. Tiap nada piano di adegan akhir saat Arini sakit masih mampu bikin ruang tamu rumah rame sama suara isakan.

Kesimpulan

Surga Yang Tak Dirindukan lebih dari film religi biasa. Ia berhasil jadi cermin buat semua orang yang pernah berada di posisi mencintai, dicintai, atau terpaksa mengalah demi orang lain. Akting BCL, Fedi, dan Raline bikin karakter terasa hidup dan konfliknya terasa dekat banget di hati. Sepuluh tahun berlalu, film ini tetap jadi benchmark drama keluarga yang nggak cuma menghibur, tapi juga menggugat nilai-nilai yang selama ini kita anggap biasa. Kalau kamu belum pernah nonton atau cuma nonton potongan di TV, tonton utuh sekali lagi. Karena ada film yang nggak cuma bikin nangis, tapi juga bikin kita bertanya: “Surga yang mana sih yang sebenarnya kita cari?” Jawabannya mungkin nggak gampang, tapi film ini berani ajak kita cari bareng.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *