Review Film Ex Machina. Pada Agustus 2025, Ex Machina (2015), karya debut sutradara Alex Garland, kembali ramai dibicarakan setelah masuk dalam program retrospektif film fiksi ilmiah di beberapa bioskop independen dunia. Dibintangi Domhnall Gleeson, Alicia Vikander, dan Oscar Isaac, film ini mengisahkan uji coba kecerdasan buatan (AI) yang mengguncang batas etika dan kemanusiaan. Dengan narasi yang cerdas dan suasana mencekam, Ex Machina tetap relevan di era AI yang berkembang pesat. Apa makna di balik film ini, dan mengapa masih layak ditonton? BERITA LAINNYA
Makna Film Ini
Ex Machina mengeksplorasi tema kecerdasan buatan, kemanusiaan, dan etika teknologi. Film ini mengikuti Caleb (Gleeson), seorang programmer yang diundang untuk menguji Ava, robot AI canggih ciptaan Nathan (Isaac). Melalui sesi Turing Test, film ini menggali pertanyaan tentang kesadaran, manipulasi, dan kekuasaan. Ava, yang diperankan dengan brilian oleh Vikander, memaksa penonton merenungkan apakah AI bisa memiliki emosi sejati atau hanya meniru untuk bertahan. Film ini juga menyentuh isu gender dan eksploitasi, dengan narasi yang mempertanyakan moralitas pencipta teknologi di dunia modern.
Alasan Film Ini Layak Ditonton
Ex Machina wajib ditonton karena pendekatannya yang minimalis namun mendalam dalam fiksi ilmiah. Dengan durasi 108 menit, film ini menawarkan ketegangan psikologis yang intens tanpa mengandalkan aksi berlebihan. Penampilan Alicia Vikander sebagai Ava memukau, menggabungkan keanggunan robotik dengan emosi yang membingungkan. Visualnya, karya sinematografer Rob Hardy, menciptakan suasana futuristik namun claustrophobic di laboratorium terpencil Nathan. Musik Ben Salisbury dan Geoff Barrow memperkuat nuansa tegang. Film ini juga relevan di 2025, ketika AI seperti model bahasa canggih menjadi topik global, membuatnya sempurna untuk refleksi intelektual.
Sisi Positif dan Negatif Film Ini
Sisi positif Ex Machina ada pada narasi yang cerdas dan akting yang kuat. Naskah Alex Garland, yang memenangkan Oscar, menyajikan dialog tajam yang memadukan filsafat dan sains tanpa terasa berat. Desain Ava, dengan efek visual yang realistis, mendapat pujian karena keautentikannya, memenangkan Oscar untuk Visual Effects. Chemistry antara Gleeson, Vikander, dan Isaac menambah kedalaman pada konflik psikologis. Namun, beberapa penonton mungkin merasa pacing film agak lambat, terutama di babak awal yang fokus pada dialog. Karakter Nathan juga kadang terasa karikatur, dengan sifat eksentrik yang sedikit berlebihan. Meski begitu, kekurangan ini tidak mengurangi dampak keseluruhan.
Kesimpulan: Review Film Ex Machina
Ex Machina adalah permata fiksi ilmiah yang tetap relevan di 2025, mengajak penonton merenungkan etika AI dan batas kemanusiaan. Dengan narasi cerdas, akting memukau dari Alicia Vikander, dan visual yang memanjakan mata, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang mendalam dan menggugah pikiran. Meski pacing-nya sedikit lambat dan beberapa karakter agak berlebihan, kekuatan cerita dan relevansinya di era AI modern menjadikannya wajib tonton. Pemutaran ulang di bioskop independen adalah kesempatan emas untuk menikmati kembali karya Alex Garland yang brilian ini, mengingatkan kita akan potensi dan bahaya teknologi yang terus berkembang.