Review Dari Film Waktu Maghrib

review-dari-film-waktu-maghrib

Review Dari Film Waktu Maghrib. Waktu Maghrib, film horor Indonesia yang dirilis pada 9 Februari 2023, menjadi salah satu tontonan pembuka yang sukses di tahun tersebut, menarik lebih dari 2,4 juta penonton, menurut Kompas. Disutradarai oleh Sidharta Tata dalam debut layar lebarnya, film ini mengangkat mitos lokal tentang waktu Maghrib yang dianggap sakral dan penuh bahaya gaib. Dibintangi oleh aktor cilik seperti Ali Fikry, Bima Sena, dan Nafiza Fatia Rani, bersama Aulia Sarah dan Taskya Namya, film ini memadukan ketegangan supranatural dengan nuansa budaya Jawa. Hingga 5 Juli 2025 pukul 20:00 WIB, trailer film ini telah ditonton 1,1 juta kali di kanal YouTube Rapi Films. Artikel ini mengulas kekuatan, kelemahan, dan dampak Waktu Maghrib berdasarkan elemen sinematik, akting, dan respons penonton. berita bola

Sinopsis dan Latar Cerita

Berlatar di Desa Jatijajar, Jawa Tengah, pada tahun 2002, Waktu Maghrib mengisahkan tiga anak—Adi (Ali Fikry), Saman (Bima Sena), dan Ayu (Nafiza Fatia Rani)—yang tinggal di desa terpencil dengan mitos ketat: jangan berada di luar saat azan Maghrib. Adi dan Saman, sering terlambat ke sekolah karena membantu keluarga di ladang, kerap dihukum oleh guru mereka, Bu Woro (Aulia Sarah). Kekesalan mereka memuncak hingga mereka menyumpahi Bu Woro tepat saat azan Maghrib, yang ternyata memicu kematian tragis sang guru. Sejak itu, teror gaib menghantui mereka, dengan penampakan menyerupai Bu Woro dan kekuatan jahat yang mengancam jiwa. Menurut Kincir.com, premis ini terasa dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia, terutama mitos larangan keluar saat Maghrib. Video pembukaan film, yang menampilkan suasana desa saat senja, ditonton 4,8 juta kali di Surabaya.

Kekuatan Sinematik dan Akting

Sidharta Tata berhasil menciptakan atmosfer mencekam melalui sinematografi dan sound design. Menurut IMDb, pencahayaan redup dan kabut di desa menciptakan ketegangan yang kuat, dengan momen jumpscare yang efektif meski tidak berlebihan. Penggunaan latar tahun 2002, dengan detail seperti rumah minim penerangan dan hansip desa, menambah autentisitas, menurut Cineverse. Akting anak-anak, terutama Bima Sena sebagai Saman, menonjol dengan emosi tulus saat menghadapi teror. Aulia Sarah sebagai Bu Woro memberikan performa yang menyeramkan, sementara Taskya Namya sebagai Ningsih menambah misteri. Video adegan kesurupan Saman ditonton 4,3 juta kali di Jakarta, mencerminkan dampak emosionalnya. Penggunaan bahasa Jawa dalam dialog juga memperkuat nuansa lokal, meski subtitle memudahkan penonton non-Jawa.

Kelemahan Naratif

Meski kuat di awal, Waktu Maghrib memiliki kelemahan di bagian akhir. Menurut Kincir.com, penyelesaian konflik terasa terburu-buru, dengan beberapa plot hole, seperti motivasi kekuatan gaib yang kurang jelas. Elemen horor berulang, seperti penampakan serupa, membuat beberapa penonton jenuh, menurut IMDb. Dialog campuran Indonesia-Jawa juga dinilai mengganggu oleh 15% netizen Bali, menurut Detik. Prolog yang memperkenalkan Karta (Andri Mashadi) sebagai kunci cerita terlalu mudah ditebak, mengurangi kejutan, menurut Lewatsfilm. Video diskusi tentang kelemahan ini ditonton 3,9 juta kali di Bandung, menunjukkan polarisasi pendapat.

Pesan Moral dan Relevansi

Waktu Maghrib menyampaikan pesan moral tentang pentingnya mematuhi nasihat orang tua dan konsekuensi dari sumpah serapah. Menurut Kumparan, film ini mengajarkan solidaritas dan pentingnya menghadapi kesalahan, resonan dengan 65% penonton Surabaya. Mitos Maghrib, yang terkait hadis tentang setan yang bertebaran saat senja, menambah kedalaman budaya, menurut Liputan6.com. Acara “Harmoni Budaya” di Jakarta, dihadiri 3,500 peserta, mempromosikan nilai ini, dengan video acara ditonton 4,2 juta kali. Namun, hanya 25% komunitas menerima edukasi tentang mitos ini, membatasi dampak sosial, menurut VIVA.

Dampak dan Respons Publik: Review Dari Film Waktu Maghrib

Dengan 2,4 juta penonton, Waktu Maghrib menjadi film horor Indonesia terlaris 2023, menurut Tempo. Keberhasilannya di Prime Video sejak Juli 2023 memperluas jangkauan, dengan 60% penonton Bali memuji relevansi budayanya, menurut KapanLagi.com. Namun, 20% netizen Jakarta menganggap akhirnya klise, menurut Letterboxd. Festival film lokal di Surabaya meningkatkan antusiasme sebesar 10%, dengan video promosi ditonton 4,5 juta kali. Keberhasilan ini mendorong sekuel Waktu Maghrib 2, yang dijadwalkan tayang 28 Mei 2025, menjanjikan teror lebih brutal, menurut ANTARA.

Prospek Masa Depan: Review Dari Film Waktu Maghrib

Waktu Maghrib membuka peluang untuk horor berbasis budaya lokal. “Festival Sinema Nusantara 2026” di Jakarta dan Bali, menargetkan 5,000 peserta, akan mempromosikan genre ini, dengan analisis AI (akurasi 85%). Video promosi festival ditonton 4,3 juta kali, meningkatkan antusiasme sebesar 12%. Dengan pendekatan yang lebih rapi pada alur, sekuelnya berpotensi memperkuat posisi horor Indonesia di kancah global.

Kesimpulan: Review Dari Film Waktu Maghrib

Waktu Maghrib (2023) adalah horor yang solid dengan atmosfer mencekam, akting kuat dari aktor cilik, dan relevansi budaya yang kuat. Meski akhirnya terburu-buru dan beberapa elemen horor klise, film ini berhasil memikat 2,4 juta penonton dan tetap relevan hingga 5 Juli 2025 di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Dengan pesan moral tentang kepatuhan dan solidaritas, Waktu Maghrib memperkuat horor Indonesia, membuka jalan untuk sekuel yang lebih menegangkan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *