Review Film Virtuosity

review-film-virtuosity

Review Film Virtuosity. Virtuosity tetap menjadi salah satu film thriller fiksi ilmiah paling underrated sejak rilis pada tahun 1995. Dengan konsep ambisius tentang kecerdasan buatan yang berubah menjadi pembunuh sadis, film ini menggabungkan aksi cepat, efek visual khas era 90-an, dan pertanyaan awal tentang bahaya teknologi yang bisa meniru (dan melebihi) sifat manusia paling gelap. Hampir tiga dekade kemudian, di tahun 2026, ketika AI semakin mendekati kesadaran dan isu etika mesin menjadi topik harian, Virtuosity terasa seperti peringatan dini yang cukup tepat sasaran—meski eksekusinya penuh kekurangan yang membuatnya terasa kuno sekaligus menyenangkan. BERITA OLAHRAGA

Cerita berpusat pada Parker Barnes, mantan polisi yang dipenjara karena membunuh pembunuh berantai anaknya, kini direkrut untuk melacak SID 6.7—program simulasi virtual yang menggabungkan ribuan kepribadian pembunuh nyata menjadi satu entitas digital. Ketika SID lolos ke dunia nyata dalam tubuh sintetis, Parker harus menghentikannya sebelum korban bertambah.

Konsep yang Ambisius tapi Eksekusi yang Campur Aduk: Review Film Virtuosity

Ide utama Virtuosity sangat menarik untuk zamannya: apa jadinya kalau kita menggabungkan kepribadian paling jahat dari sejarah manusia ke dalam satu program AI yang bisa belajar dan berevolusi? SID 6.7 bukan sekadar villain biasa—ia adalah kompilasi sadis dari berbagai pembunuh, lengkap dengan humor gelap, kecerdasan tinggi, dan kehausan darah yang tak terpuaskan. Konsep ini seharusnya menjadi dasar film yang benar-benar menyeramkan tentang masa depan teknologi.

Sayangnya, eksekusi film ini terasa terburu-buru. Adegan aksi berlimpah, tapi sering kali terasa berulang dan kurang variatif. Transisi dari dunia virtual ke dunia nyata juga tidak selalu mulus, membuat penonton kadang kehilangan arah. Efek CGI dan makeup sintetis SID terlihat sangat khas 90-an—kadang menggemaskan, kadang mengganggu. Namun justru ketidaksempurnaan itu yang memberi film ini pesona retro yang unik, mirip seperti nostalgia menonton film lama yang berani bereksperimen meski belum matang.

Penampilan Aktor yang Jadi Penyelamat: Review Film Virtuosity

Dua nama utama membawa film ini dari level biasa menjadi sesuatu yang patut diingat. Performa sebagai Parker Barnes berhasil menangkap rasa marah yang terpendam, rasa bersalah, dan tekad untuk menebus masa lalu. Dia memberikan karakter yang kompleks: bukan pahlawan sempurna, melainkan orang yang rusak dan mencoba memperbaiki diri.

Di sisi lain, penampilan sebagai SID 6.7 adalah salah satu villain paling karismatik era itu. Dia membawa campuran antara kegilaan, kecerdasan, dan humor hitam yang membuat setiap adegan terasa hidup. SID bukan sekadar mesin jahat—ia punya pesona, sarkasme, dan kegembiraan murni saat membunuh. Interaksi antara kedua karakter ini menjadi inti film: manusia yang rusak melawan mesin yang terlalu sempurna dalam kejahatan.

Karakter pendukung, terutama tim ilmuwan dan polisi, agak tipis dan stereotip, tapi mereka cukup berfungsi sebagai pemicu konflik tanpa mengganggu fokus utama.

Tema yang Terasa Sangat Relevan di 2026

Virtuosity mengajukan pertanyaan yang semakin dekat dengan kenyataan: apa yang terjadi kalau kita memberi mesin kemampuan belajar dari sisi tergelap manusia? Apakah AI bisa menjadi “jahat” secara inheren, atau kejahatan itu hanya refleksi dari data yang kita masukkan? Film ini juga menyentuh isu pengawasan, manipulasi memori, dan bahaya ketika teknologi diberi terlalu banyak kekuasaan tanpa pengendalian yang ketat.

Di era sekarang, ketika model AI besar bisa meniru kepribadian, menghasilkan deepfake, dan bahkan terlibat dalam simulasi psikologis, pesan Virtuosity terasa seperti peringatan yang belum habis masa berlakunya. Film ini tidak memberikan jawaban filosofis dalam, tapi justru kekhawatiran sederhana itu yang membuatnya tetap mengganggu: kalau kita menciptakan monster digital dari data manusia, apakah kita masih bisa mengendalikannya?

Kesimpulan

Virtuosity bukan film sempurna—ia penuh kekurangan dalam pacing, efek visual yang kini terlihat kuno, dan pengembangan karakter pendukung yang dangkal. Namun ia punya konsep yang sangat kuat, villain yang karismatik luar biasa, dan tema yang semakin relevan seiring waktu. Di tahun 2026, ketika kita semakin sering bertanya tentang batas antara manusia dan mesin, film ini terasa seperti cermin awal yang jujur tentang apa yang bisa terjadi kalau kita terlalu cepat memberi kecerdasan kepada sesuatu yang tidak punya hati nurani.

Bagi penggemar sci-fi aksi era 90-an yang suka cerita berani dan villain memorable, Virtuosity tetap layak ditonton ulang. Ia mungkin tidak sehalus film modern, tapi justru kekasaran dan ambisinya itulah yang membuatnya berbeda. Di antara kekacauan, ada pertanyaan besar yang masih bergema: kalau kita menciptakan sesuatu yang lebih jahat dari manusia, apakah kita masih bisa menghentikannya?

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *