Review Film Moneyball. Akhir November 2025, Moneyball kembali trending setelah versi 4K dirilis dan masuk beberapa daftar “film olahraga terbaik sepanjang masa” versi kritikus internasional. Dirilis tahun 2011, film arahan Bennett Miller ini masih jadi benchmark bagaimana cerita baseball bisa terasa seperti thriller korporat. Dengan Brad Pitt dan Jonah Hill di puncak performa, plus nask励 Aaron Sorkin yang tajam, Moneyball bukan cuma soal olahraga—ia soal revolusi, underdog, dan keberanian melawan sistem yang sudah tua. REVIEW KOMIK
Cerita yang Berbasis Fakta Nyata: Review Film Moneyball
Tahun 2002, Oakland Athletics kehilangan tiga bintang utama dan hanya punya budget terkecil di liga. Billy Beane, general manager yang trauma karena karier pemainnya gagal, memutuskan tak lagi main sesuai aturan lama. Bersama Peter Brand—lulusan ekonomi muda yang jenius—ia mulai pakai sabermetrics: analisis statistik dingin untuk cari pemain yang diabaikan tapi punya nilai tinggi. Mereka rekrut pemain “jelek” di mata scout tradisional: pitcher gendut, catcher yang tak bisa lempar jauh, batter yang sering walk. Hasilnya? Tim termurah di liga ini tiba-tiba menang 20 kali berturut-turut—rekor Amerika yang masih bertahan sampai sekarang. Film ini tak banyak adegan lapangan; lebih banyak ruang rapat, telepon, dan spreadsheet, tapi tetap bikin jantung deg-degan.
Akting yang Membuat Karakter Hidup: Review Film Moneyball
Brad Pitt sebagai Billy Beane adalah salah satu peran terbaiknya: karismatik, penuh luka, dan selalu satu langkah di depan semua orang kecuali dirinya sendiri. Jonah Hill—yang waktu itu masih dikenal sebagai aktor komedi—mencuri film sebagai Peter Brand: canggung, pintar, dan jadi suara hati nurani Billy. Chemistry mereka terasa seperti dua orang kesepian yang menemukan bahasa yang sama. Philip Seymour Hoffman sebagai manajer lapangan yang anti-data juga brilian—ia mewakili generasi lama yang merasa terancam. Bahkan aktor pendukung seperti Kerris Dorsey (putri Billy) punya momen kecil yang bikin mata berkaca.
Gaya Sorkin dan Ritme yang Pas
Dialog Aaron Sorkin berjalan cepat seperti biasa: penuh one-liner cerdas, monolog tentang “how do we win”, dan kalimat-kalimat yang pengen kita kutip di grup chat. Tapi Bennett Miller pintar menahan tempo—ada momen sunyi, close-up wajah Billy yang frustrasi, atau suara bola yang memukul sarung tangan di latar belakang. Musik minimalis dari Mychael Danna dan potongan video pertandingan asli bikin kita merasa benar-benar berada di tahun 2002. Endingnya—tanpa spoiler—adalah salah satu penutup paling pahit-manis dalam film olahraga: kemenangan yang terasa seperti kekalahan, dan kekalahan yang terasa seperti awal sesuatu yang lebih besar.
Kesimpulan
Moneyball bukan film baseball; ia film tentang orang yang berani bilang “cara lama sudah mati” meski semua orang menertawakannya. Di akhir 2025, ketika data dan analitik menguasai hampir semua bidang—dari politik sampai pacaran—film ini terasa lebih relevan dari sebelumnya. Nonton ulang malam ini, dan kamu akan pulang dengan dua perasaan: terinspirasi untuk lawan sistem, sekaligus sadar bahwa terkadang kemenangan sejati tak pernah diakui dunia. Kalau kamu suka cerita underdog yang cerdas, lucu, dan sedikit menyakitkan, Moneyball tetap jadi home run sempurna setelah 14 tahun.