Review Film Milea: Suara dari Dilan

review-film-milea-suara-dari-dilan

Review Film Milea: Suara dari Dilan. Film Milea: Suara dari Dilan yang tayang perdana pada 13 Februari 2020 kembali menjadi perbincangan di awal 2026. Sebagai penutup trilogi adaptasi novel karya Pidi Baiq, film ini sering muncul dalam tayangan ulang televisi dan platform streaming, terutama saat akhir tahun lalu. Kisah romansa remaja ikonik ini berhasil menarik lebih dari 3 juta penonton saat pertama rilis, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris tahun itu meski durasinya lebih pendek dibanding dua pendahulunya. Kini, karya ini tetap relevan, membawa nostalgia era 1990-an dan menyelesaikan misteri perpisahan Dilan serta Milea bagi generasi baru maupun lama. TIPS MASAK

Plot dan Karakter Utama: Review Film Milea: Suara dari Dilan

Cerita berfokus pada sudut pandang Dilan, berbeda dari dua film sebelumnya yang mengambil perspektif Milea. Film dibuka dengan Dilan dewasa yang menulis versi ceritanya sendiri setelah membaca kisah Milea. Ia menceritakan kembali pertemuan pertama mereka di Bandung 1990-an, proses pendekatan penuh gombalan, hingga hubungan yang berakhir karena konflik geng motor dan kesalahpahaman. Kilas balik mendominasi sebagian besar durasi, tapi bagian baru mengungkap latar belakang keluarga Dilan, termasuk hubungannya dengan ayah dan adik, serta perasaan sejati Dilan saat Milea meninggalkannya.

Iqbaal Ramadhan kembali sebagai Dilan dengan performa lebih matang, menunjukkan sisi rentan di balik image pemberontak. Vanesha Prescilla sebagai Milea tetap natural, meski porsinya lebih sedikit. Karakter pendukung seperti Ira Wibowo, Bucek Depp, Happy Salma, Adhisty Zara sebagai adik Dilan, dan Andovi da Lopez menambah kedalaman emosi. Chemistry Iqbaal dan Vanesha masih kuat, membuat penonton ikut merasakan pahit manisnya kisah cinta yang tak sempurna.

Elemen Nostalgia dan Emosional: Review Film Milea: Suara dari Dilan

Milea: Suara dari Dilan berhasil membangkitkan nostalgia kuat melalui latar Bandung era 1990-an, dengan detail seperti motor klasik, seragam SMA, telepon umum, dan budaya geng motor yang ringan. Film ini mengeksplorasi tema pendewasaan, pengorbanan, serta konsekuensi dari kesalahpahaman dalam hubungan. Adegan reuni saat dewasa memberikan penutup yang bittersweet, menunjukkan bagaimana waktu mengubah segalanya tapi perasaan lama tetap membekas. Musik pendukung dan narasi hati Dilan membuat cerita terasa lebih personal dan menyentuh, terutama bagi yang pernah mengalami cinta pertama penuh drama.

Disutradarai Fajar Bustomi bersama Pidi Baiq, tempo film lebih lambat di bagian flashback, tapi justru itu yang membuat penonton merasakan kehampaan pasca-perpisahan. Elemen ini menjadi kekuatan utama, memberikan perspektif seimbang tentang mengapa hubungan mereka berakhir.

Kelebihan dan Kritik

Film ini dipuji karena menyelesaikan trilogi dengan baik, memberikan jawaban atas kesalahpahaman di film sebelumnya, serta akting Iqbaal yang lebih menonjol. Banyak penonton merasa lega melihat sisi lain Dilan, membuat cerita terasa lengkap dan emosional. Kesuksesan box office dengan ratusan ribu penonton di hari pertama membuktikan daya tarik saga ini lintas generasi.

Namun, kritik utama adalah pengulangan adegan dari Dilan 1990 dan Dilan 1991 yang terasa berlebihan, membuat sebagian durasi membosankan bagi yang sudah menonton dua film sebelumnya. Pengembangan karakter baru kurang dalam, terutama soal keluarga Dilan, dan beberapa adegan emosional seperti kematian ayah terasa kurang natural. Meski begitu, kekurangan ini tidak menghilangkan nilai nostalgia dan pesan dewasa tentang menerima kenyataan cinta.

Kesimpulan

Milea: Suara dari Dilan adalah penutup sempurna untuk saga romansa remaja yang telah memikat jutaan orang. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa cinta pertama sering penuh rindu tak terselesaikan, tapi juga mengajarkan tentang pertumbuhan dan penerimaan. Dengan perspektif baru dari Dilan, film ini memberikan keseimbangan emosional yang membuat trilogi terasa utuh. Cocok ditonton ulang bagi penggemar lama yang ingin nostalgia, atau penonton baru yang ingin merasakan kehangatan kisah polos era 90-an. Secara keseluruhan, ini adalah tribute manis yang membuktikan kekuatan cerita cinta sederhana tetap abadi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *