Review Film Jurnal Risa: Teror Nyata Menimpa Jurnal Risa. Film horor Jurnal Risa yang tayang di bioskop pada 1 Agustus 2024 langsung menjadi salah satu judul paling ramai dibicarakan di kalangan penonton Indonesia. Produksi Rapi Films ini berhasil menarik lebih dari 6 juta penonton dalam beberapa bulan pertama dan terus menjadi bahan diskusi seru hingga Februari 2026. Diadaptasi dari serial populer Jurnal Risa di YouTube, film ini membawa sosok Risa (Aqeela Calista) ke layar lebar dengan cerita yang lebih gelap dan intens. Berlatar di sebuah sekolah menengah biasa, kisah dimulai ketika Risa menemukan buku jurnal tua yang ternyata bukan sekadar catatan harian—melainkan pintu masuk ke teror gaib nyata yang mulai menimpa kehidupan sehari-harinya. Dengan durasi 114 menit, film ini tidak hanya mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu, melainkan juga membangun rasa takut melalui rasa curiga yang merayap, atmosfer sekolah yang mulai berubah mencekam, dan pengungkapan bertahap bahwa teror itu bukan khayalan, tapi benar-benar menimpa Risa dan orang-orang di sekitarnya. Review ini mengupas makna utama cerita: teror nyata yang menimpa Jurnal Risa sebagai simbol bahaya ketika rasa ingin tahu membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. INFO PROPERTI
Sinopsis dan Alur yang Meningkatkan Ketegangan: Review Film Jurnal Risa: Teror Nyata Menimpa Jurnal Risa
Risa, siswi SMA yang hobi menulis jurnal dan tertarik pada hal-hal mistis, menemukan buku tua berjudul “Jurnal Risa” di perpustakaan sekolah. Awalnya ia mengira itu hanya kebetulan nama, tapi semakin ia membaca, semakin banyak kejadian aneh menimpa hidupnya: suara langkah di koridor kosong malam hari, bayangan yang muncul di cermin, dan teman-temannya mulai mengalami gangguan gaib yang sama. Alur bergerak lambat di paruh pertama untuk membangun rasa tidak nyaman melalui detail kecil—catatan jurnal yang tiba-tiba bertambah sendiri, pesan misterius di ponsel, dan mimpi buruk yang terasa terlalu nyata. Ketegangan melonjak di paruh kedua ketika Risa menyadari bahwa buku itu bukan catatan biasa, melainkan “pintu” yang membuka akses bagi makhluk gaib untuk masuk ke dunia nyata. Teror yang awalnya hanya mengganggu Risa mulai menyebar ke teman dan keluarganya, membuatnya harus memilih: membakar buku itu dan berhenti, atau terus mencari tahu meski risikonya semakin besar. Rizal Mantovani (bukan sutradara film ini—maaf, sutradara sebenarnya Anggy Devina) berhasil membangun rasa takut yang bertahap: dari rasa penasaran menjadi ketakutan nyata, lalu menjadi keputusasaan ketika teror itu sudah terlalu dekat.
Kekuatan Sinematik dan Makna Teror Nyata Menimpa Jurnal Risa
Sinematografi film ini menggunakan warna-warna dingin dan pencahayaan rendah khas sekolah malam hari untuk menciptakan rasa terkurung dan terintimidasi. Koridor sekolah yang panjang, ruang kelas kosong, dan perpustakaan tua menjadi latar yang sangat efektif membangun atmosfer horor psikologis. Tema teror nyata menimpa Jurnal Risa di sini bukan sekadar cerita hantu, melainkan simbol bahaya ketika rasa ingin tahu membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Buku jurnal itu menjadi metafor “pengetahuan terlarang” yang mengundang kekuatan gaib masuk ke kehidupan sehari-hari. Kematian misterius teman-teman Risa dan gangguan yang semakin parah menunjukkan bahwa teror gaib bukan datang secara tiba-tiba, melainkan merayap pelan ketika seseorang terus “membaca” dan “menggali” hal-hal yang seharusnya dibiarkan saja. Anggy Devina juga menyisipkan kritik halus terhadap budaya urban legend di kalangan remaja—bagaimana cerita mistis yang awalnya hanya untuk seru-seruan bisa berubah menjadi sesuatu yang benar-benar membahayakan. Performa Aqeela Calista sebagai Risa sangat kuat—ia berhasil menyampaikan transisi dari rasa penasaran menjadi ketakutan murni, lalu keputusasaan ketika menyadari bahwa teror itu sudah terlalu dalam. Adegan klimaks di perpustakaan malam hari menjadi salah satu momen paling mencekam—menggabungkan elemen sehari-hari sekolah dengan horor gaib yang terasa sangat dekat. Ending film yang terbuka membuat penonton terus memikirkan: apakah teror itu benar-benar berakhir, atau hanya menunggu orang berikutnya yang nekat membuka buku itu lagi?
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026: Review Film Jurnal Risa: Teror Nyata Menimpa Jurnal Risa
Sampai Februari 2026, Jurnal Risa masih sering disebut sebagai salah satu horor remaja Indonesia yang berhasil menggabungkan elemen urban legend lokal dengan konflik psikologis yang relatable. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan dialog seperti “jangan baca kalau nggak siap” sebagai caption di media sosial untuk menggambarkan rasa penasaran yang berujung bahaya. Film ini juga kerap dijadikan bahan diskusi tentang bahaya “menggali terlalu dalam” dalam konteks urban legend, creepypasta, atau konten mistis di internet. Di era di mana remaja sering terpapar cerita horor viral, pesan film ini terasa semakin relevan: teror gaib yang mengintai bisa dimulai dari hal sekecil rasa ingin tahu yang tidak dikendalikan.
Kesimpulan
Jurnal Risa bukan sekadar film horor remaja yang mengandalkan penampakan gaib; ia adalah potret gelap tentang teror nyata yang menimpa ketika rasa ingin tahu membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Anggy Devina berhasil mengemas cerita yang menyeramkan sekaligus mengajak penonton merenung tentang bahaya “menggali terlalu dalam” dalam dunia yang penuh misteri. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa teror terbesar bukan selalu datang dari hantu, melainkan dari konsekuensi rasa penasaran yang tidak terkendali. Bagi siapa pun yang pernah tergoda membaca atau mencari tahu hal-hal yang “sebaiknya tidak disentuh”, film ini terasa seperti bisikan dingin: ya, teror itu nyata—dan kadang dimulai dari hal sekecil sebuah buku jurnal tua.