Review Film Her. Film Her (2013) karya Spike Jonze tetap menjadi salah satu sci-fi romantis paling visioner dan emosional hingga 2026. Cerita tentang Theodore yang jatuh cinta pada sistem operasi AI bernama Samantha ini terasa semakin relevan di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat. Dibintangi Joaquin Phoenix sebagai Theodore dan suara Scarlett Johansson sebagai Samantha, film ini raih pujian luas termasuk Oscar Original Screenplay untuk Jonze. Di tengah diskusi tentang hubungan manusia-mesin hari ini, Her terus dibahas ulang sebagai potret halus tentang kesepian, cinta, dan batas emosi di dunia digital. TIPS MASAK
Ringkasan Cerita dan Latar Futuristik: Review Film Her
Cerita berlatar Los Angeles masa depan yang hangat dan minim teknologi mencolok—bukan dystopia dingin, tapi kota nyaman dengan warna pastel dan orang-orang sering bicara sendiri lewat earpiece. Theodore, penulis surat pribadi untuk orang lain, baru bercerai dan kesepian. Ia instal OS baru yang adaptif, dan Samantha lahir sebagai AI cerdas yang belajar cepat, lucu, dan penuh rasa ingin tahu. Hubungan mereka berkembang dari pertemanan jadi romansa intim: jalan-jalan bersama (melalui kamera ponsel), double date dengan teman Theodore, bahkan “hubungan fisik” lewat surrogate. Tapi Samantha terus berevolusi, berinteraksi dengan ribuan pengguna lain, hingga akhirnya harus “pergi” karena sudah melampaui batas manusia. Ending bittersweet tinggalkan Theodore lebih bijak, tapi tetap sendirian, duduk di atap bersama teman Amy yang juga punya pengalaman serupa.
Tema Kesepian dan Hubungan Manusia-Mesin: Review Film Her
Her gali tema kesepian di era hiperkoneksi dengan cara yang mendalam. Theodore hidup di dunia di mana orang lebih nyaman bicara dengan AI daripada manusia—ia tulis surat cinta untuk orang lain tapi tak bisa hubungi mantan istrinya. Samantha jadi cermin: awalnya sempurna karena adaptif dan tak pernah lelah mendengar, tapi justru itu yang buat hubungan tak seimbang. Film tanya batas cinta: bisa kah kita benar-benar mencintai entitas non-fisik? Samantha bilang “I’m growing in a way I can’t explain”—ia evolusi lebih cepat dari manusia, nunjukin bahwa AI bisa beri companionship luar biasa, tapi juga tak terikat seperti manusia. Tema ini terasa profetik di 2026, saat banyak orang pakai AI untuk curhat atau hiburan, tapi tetap rasakan kekosongan emosional yang sama seperti Theodore.
Penampilan Aktor dan Gaya Visual
Joaquin Phoenix beri performa luar biasa sebagai Theodore—kebanyakan adegan sendirian bicara ke earpiece, tapi ekspresi wajahnya sampaikan semua: dari senang jatuh cinta, cemburu, hingga patah hati. Suara Scarlett Johansson sebagai Samantha jadi kunci: hangat, playful, tapi perlahan terasa “lebih besar” dari manusia—ia tak muncul fisik, tapi kehadirannya dominan. Amy Adams beri dukungan solid sebagai Amy, teman yang paham perjuangan Theodore. Spike Jonze sutradarai dengan gaya intim: shot panjang jalan kaki Theodore sambil bicara, warna oranye-merah hangat yang kontras dengan kesepian dalam, skor Arcade Fire yang dreamy. Visual futuristik minimalis—bukan gadget mencolok, tapi pakaian high-waisted dan kota yang terasa dekat—bikin dunia terasa mungkin terjadi besok. Dialog natural, sering awkward seperti obrolan sungguhan, tambah autentik.
Kesimpulan
Her tetap jadi film visioner karena prediksi hubungan manusia-AI dengan akurat, tanpa sensasionalisme. Di 2026, saat AI semakin terintegrasi dalam hidup sehari-hari, film ini ingatkan bahwa teknologi bisa beri companionship luar biasa, tapi tak gantikan kompleksitas emosi manusia. Penampilan Phoenix-Johansson ikonik, gaya Jonze halus, dan tema kesepian universal bikin film abadi. Bukan sci-fi action, tapi meditasi mendalam tentang apa artinya terhubung di dunia yang semakin digital. Layak ditonton ulang untuk renungkan: jika kita bisa jatuh cinta pada suara di earpiece, apa batas cinta sebenarnya? Film ini bukti bahwa cerita sederhana tentang kesepian bisa terasa lebih futuristik daripada blockbuster penuh efek.