Review Film Get Out: Horor Sosial yang Cerdas

Review Film Get Out: Horor Sosial yang Cerdas

Review Film Get Out: Horor Sosial yang Cerdas. Get Out karya Jordan Peele yang tayang pada 2017 tetap menjadi salah satu film horor paling berpengaruh dan cerdas dalam satu dekade terakhir. Film ini mengikuti Chris Washington (Daniel Kaluuya), seorang fotografer kulit hitam yang pergi ke rumah keluarga pacarnya Rose Armitage (Allison Williams) untuk bertemu orang tua dan saudaranya. Apa yang awalnya tampak seperti kunjungan keluarga biasa perlahan berubah menjadi mimpi buruk penuh manipulasi rasial dan rahasia gelap. Dengan durasi sekitar 104 menit, Peele berhasil menggabungkan elemen horor psikologis klasik dengan komentar sosial tajam tentang rasisme terselubung di masyarakat Amerika modern. Hampir sembilan tahun kemudian, di tengah diskusi yang masih panas tentang mikroagresi, apropriasi budaya, dan ketegangan rasial pada 2026, Get Out terasa lebih relevan dan mengganggu daripada saat pertama rilis—sebuah karya yang tidak hanya menakutkan, tapi juga membuat penonton bertanya pada diri sendiri. MAKNA LAGU

Sinematografi dan Teknik Horor yang Halus di Film Get Out: Review Film Get Out: Horor Sosial yang Cerdas

Jordan Peele, yang sebelumnya dikenal sebagai komedian, menunjukkan keahlian luar biasa dalam membangun ketegangan tanpa mengandalkan jump scare murahan. Sinematografer Toby Oliver menggunakan framing yang cerdas: close-up wajah Chris yang sering kali menunjukkan ketidaknyamanan halus, wide shot ruangan yang terasa terlalu rapi dan steril, serta warna dingin yang kontras dengan kehangatan palsu keluarga Armitage. Teknik “sunken place”—saat Chris terperangkap dalam kesadaran bawahnya sendiri—menjadi salah satu visual paling ikonik dan mengerikan dalam horor modern, menggambarkan hilangnya kendali diri dan identitas. Musik Michael Abels yang minimalis, dengan suara bernada tinggi dan ritme yang gelisah, memperkuat rasa tidak nyaman tanpa pernah mendominasi. Peele sengaja memperlambat tempo di paruh pertama, membiarkan penonton merasakan ketidaknyamanan yang sama seperti Chris—sebuah teknik horor sosial yang sangat efektif.

Tema Rasisme Terselubung dan Horor Sosial di Film Get Out: Review Film Get Out: Horor Sosial yang Cerdas

Di balik cerita horornya, Get Out adalah kritik pedas terhadap “liberalisme palsu” dan rasisme yang tersembunyi di balik sikap ramah. Keluarga Armitage dan teman-temannya tidak pernah mengucapkan kata rasis secara terang-terangan—malah sebaliknya, mereka terus memuji “keunggulan fisik” Chris, membandingkannya dengan atlet kulit hitam terkenal, atau mengatakan mereka akan memilih Obama untuk masa jabatan ketiga. Semua itu adalah bentuk mikroagresi yang halus tapi menyakitkan. “Sunken place” menjadi metafor sempurna untuk hilangnya suara dan identitas orang kulit hitam dalam masyarakat yang mengklaim “colorblind”. Peele juga menyentil apropriasi budaya dan fetishisasi tubuh kulit hitam—ketika keluarga Armitage ingin “mengambil alih” tubuh Chris karena dianggap lebih kuat dan menarik. Film ini tidak hanya menakutkan karena monster atau hantu, tapi karena monster itu adalah sikap sehari-hari yang kita temui di dunia nyata. Di era sekarang, ketika isu rasial masih sering muncul dalam bentuk yang lebih halus melalui media sosial dan politik, pesan Get Out terasa seperti peringatan yang belum usai.

Warisan dan Pengaruh yang Luas

Get Out memenangkan Academy Award untuk Best Original Screenplay (satu-satunya kemenangan Oscar bagi film horor sejak The Silence of the Lambs), serta mendapat nominasi Best Picture, Best Director, dan Best Actor untuk Daniel Kaluuya. Film ini membuka jalan bagi gelombang horor sosial modern—dari Us dan Nope (juga karya Peele) hingga The Invisible Man, Candyman, dan The Menu. Restorasi dan penayangan ulang di bioskop arthouse terus laris, terutama setelah kesuksesan besar Parasite dan Everything Everywhere All at Once yang juga menggabungkan genre dengan komentar sosial. Di 2026, ketika diskusi tentang rasisme sistemik, apropriasi budaya, dan representasi di Hollywood semakin intens, Get Out sering disebut kembali sebagai salah satu film yang “membuka mata” generasi baru.

Kesimpulan

Get Out adalah film horor yang cerdas sekaligus mengganggu—sebuah karya yang menggunakan genre untuk menyampaikan kebenaran sosial yang sulit diterima. Jordan Peele berhasil menggabungkan suspense klasik Hitchcock dengan kritik rasial yang tajam, tanpa pernah terasa menggurui atau berat. Hampir sembilan tahun berlalu, film ini masih relevan karena rasisme terselubung yang ia gambarkan masih ada di sekitar kita—dalam obrolan santai, pujian yang terasa aneh, atau sikap yang mengklaim “saya tidak rasis”. Jika Anda belum menonton ulang atau baru pertama kali, siapkan diri untuk pengalaman yang tidak hanya menakutkan, tapi juga membuat Anda bertanya-tanya: sudah berapa kali saya jadi bagian dari “Armitage family” tanpa sadar? Sebuah film yang tak hanya menghibur, tapi juga mengajak kita melihat dunia dengan mata yang lebih jernih.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *