Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini

Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini

Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini. Di tengah semakin maraknya film Indonesia yang mengangkat isu lingkungan pada 2025–2026, Empat Musim Pertiwi karya Andini Efendi menjadi salah satu karya yang paling menyentuh dan relevan. Tayang perdana di bioskop pada akhir 2025, film ini langsung mendapat perhatian karena berhasil mengemas drama keluarga yang hangat dengan kritik tajam terhadap kerusakan lingkungan. Berlatar di Sumatera Utara—tepatnya kawasan hutan dan perkampungan sekitar Danau Toba—film ini mengikuti perjuangan seorang ibu tunggal bernama Pertiwi yang berusaha melindungi tanah leluhurnya dari ekspansi perusahaan sawit besar. Dengan durasi 1 jam 58 menit, Empat Musim Pertiwi bukan sekadar cerita lingkungan; ia adalah drama keluarga yang menyentuh tentang empat musim kehidupan seorang perempuan Batak yang berjuang mempertahankan identitas, tanah, dan masa depan anak-anaknya di tengah ancaman deforestasi dan konflik agraria. INFO GAME

Latar Belakang Film: Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini: Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini

Empat Musim Pertiwi merupakan film orisinal Andini Efendi setelah kesuksesan film-film independennya sebelumnya. Andini menulis dan menyutradarai sendiri, mengambil inspirasi dari kisah nyata perjuangan perempuan adat di Sumatera Utara yang menghadapi perusahaan sawit dan kebijakan agraria yang merugikan masyarakat lokal. Pemeran utama diisi oleh Laura Basuki sebagai Pertiwi—seorang ibu tangguh yang kehilangan suami karena konflik tanah—serta anak-anaknya yang diperankan oleh aktor muda berbakat. Reza Rahadian tampil sebagai tokoh antagonis halus dalam wujud perwakilan perusahaan, sementara aktor lokal Batak seperti Ronggur Sihombing dan Siska Aprisia menambah kedalaman budaya. Syuting dilakukan sepenuhnya di lokasi asli sekitar Danau Toba dan hutan-hutan sekitarnya, dengan sinematografi yang menonjolkan keindahan alam sekaligus luka deforestasi. Musik oleh Midair Talks memadukan instrumen tradisional Batak dengan komposisi modern, menciptakan nuansa emosional yang kuat. Film ini dirilis di bioskop nasional dan segera masuk platform streaming, mendapat sambutan hangat dari penonton yang merasa terwakili oleh isu tanah adat.

Analisis Tema dan Makna: Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini: Review Film Empat Musim Pertiwi: Drama Lingkungan Andini

Inti cerita Empat Musim Pertiwi adalah perjuangan seorang perempuan melawan empat musim kehidupan—musim semi (masa muda dan harapan), musim panas (perjuangan keras), musim gugur (kehilangan dan penyesalan), serta musim dingin (penerimaan dan keteguhan)—sambil mempertahankan tanah leluhurnya. Pertiwi, yang awalnya hanya ingin hidup tenang bersama anak-anaknya, terpaksa berhadapan dengan perusahaan sawit yang mengklaim tanah warisan keluarganya. Konflik ini bukan sekadar pertarungan fisik; ia melibatkan tekanan hukum, intimidasi, dan perpecahan dalam keluarga serta masyarakat adat sendiri.
Andini Efendi berhasil menyajikan isu lingkungan tanpa terasa menggurui. Deforestasi digambarkan melalui visual nyata: hutan yang semakin menipis, sungai yang keruh, dan anak-anak yang tak lagi bisa bermain di alam seperti dulu. Ada kritik terhadap kapitalisme agraria yang mengorbankan masyarakat adat demi keuntungan korporasi, serta bagaimana perempuan sering menjadi garda terdepan dalam perlawanan meski jarang mendapat pengakuan. Hubungan ibu-anak menjadi jantung emosional: Pertiwi berjuang bukan hanya untuk tanah, tapi agar anak-anaknya mewarisi identitas Batak dan nilai menghormati alam. Akhir cerita yang pahit-manis memberikan pesan bahwa kemenangan tak selalu berarti mengalahkan musuh, melainkan mempertahankan martabat dan harapan untuk generasi berikutnya.

Dampak dan Resepsi Publik

Sejak tayang, Empat Musim Pertiwi mendapat sambutan positif karena keberaniannya mengangkat isu konflik agraria dan hak tanah adat yang masih aktual di Sumatera Utara dan berbagai daerah Indonesia. Laura Basuki dipuji karena penampilan yang penuh emosi dan kekuatan, sementara Andini Efendi disebut sebagai salah satu sutradara yang konsisten menyuarakan isu sosial melalui sinema. Film ini memicu diskusi luas di media sosial dan komunitas lingkungan, terutama di kalangan penonton Medan dan Sumatera Utara yang merasa cerita ini sangat dekat dengan realitas mereka. Banyak penonton berbagi cerita pribadi tentang konflik tanah keluarga atau dampak sawit terhadap lingkungan hidup. Secara komersial, film ini sukses di bioskop dan mendapat ulasan bagus di platform streaming, sering masuk daftar “film Indonesia bertema lingkungan terbaik” tahun 2025. Hingga awal 2026, serial ini masih sering diputar ulang dan dibahas dalam acara diskusi lingkungan serta festival film nasional.

Kesimpulan

Empat Musim Pertiwi adalah drama lingkungan yang indah sekaligus menyakitkan—sebuah film yang berhasil menggabungkan kepekaan budaya Batak, perjuangan perempuan, dan kritik terhadap kerusakan alam dalam satu narasi yang kuat. Andini Efendi dan timnya berhasil menyajikan cerita yang emosional tanpa jatuh ke klise, membuat penonton tak hanya terhibur tapi juga tergerak untuk memikirkan isu tanah dan lingkungan di sekitar kita. Di 2026 ini, ketika konflik agraria dan deforestasi masih menjadi masalah nyata, film ini mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan tanah leluhur adalah perjuangan mempertahankan identitas dan masa depan. Jika Anda belum menonton atau ingin menonton ulang, siapkan hati—Empat Musim Pertiwi akan membuat Anda terharu, marah, dan mungkin lebih menghargai alam serta akar budaya yang selama ini kita miliki.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *