Review Film Dua Hati Biru: Cinta yang Tak Saling Mengerti. Dua Hati Biru tayang di bioskop Indonesia pada 17 April 2024, menjadi sekuel resmi dari film sukses Dua Garis Biru (2019). Disutradarai Gina S. Noer bersama Dinna Jasanti, film berdurasi 106 menit ini melanjutkan kisah Bima dan Dara sebagai orang tua muda yang berjuang menjalani rumah tangga setelah pernikahan dini. Dibintangi Angga Yunanda sebagai Bima, Aisha Nurra Datau sebagai Dara, dan Farrell Rafisqy sebagai anak mereka Adam, film ini mengangkat realita pernikahan muda dengan konflik rumah tangga, perbedaan pandangan parenting, dan tekanan keluarga besar. Tayang bertepatan Lebaran, film ini mendapat sambutan positif dari penonton dengan rating tinggi dan apresiasi atas keberaniannya menyajikan drama keluarga yang relatable tanpa terlalu melodramatis. Meski bukan film blockbuster aksi, Dua Hati Biru berhasil jadi tontonan hangat yang mengajak kontemplasi tentang cinta, pengorbanan, dan komunikasi dalam rumah tangga. INFO GAME
Alur Cerita dan Plot: Review Film Dua Hati Biru: Cinta yang Tak Saling Mengerti
Empat tahun setelah Dua Garis Biru, Dara kembali dari kuliah di Korea Selatan dan bergabung kembali dengan Bima serta anak mereka Adam yang kini berusia empat tahun. Awalnya harapan tinggi untuk membangun keluarga bahagia, tapi realita segera muncul: perbedaan pandangan tentang parenting, beban pekerjaan Bima sebagai single parent selama ini, serta trauma masa lalu yang belum selesai. Adam sering menjadi saksi pertengkaran orang tuanya, dan keduanya kesulitan menemukan keseimbangan antara ambisi pribadi dan tanggung jawab keluarga. Plot mengikuti perjuangan mereka menghadapi konflik sehari-hari: Bima yang merasa terabaikan, Dara yang ingin mengejar karir lagi, serta pengaruh keluarga besar yang sering ikut campur. Ada momen emosional seperti Adam yang menolak Dara karena terbiasa dengan Bima, serta pertengkaran panjang yang menunjukkan ketidakmampuan mereka saling mengerti. Cerita bergerak lambat tapi realistis, fokus pada dialog dan emosi daripada drama besar. Twist kecil muncul melalui pengakuan masa lalu dan upaya rekonsiliasi, diakhiri dengan resolusi yang hangat tapi tidak muluk-muluk—mereka belajar bahwa cinta butuh usaha terus-menerus. Meski predictable bagi sebagian penonton, alur tetap mengalir lancar dan terasa dekat dengan kehidupan pasangan muda.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Dua Hati Biru: Cinta yang Tak Saling Mengerti
Angga Yunanda sebagai Bima tampil matang dan relatable—ia berhasil menyampaikan beban ayah muda yang berusaha jadi orang tua terbaik meski sering frustrasi. Penampilannya lebih dalam dibanding film pertama, dengan ekspresi lelah dan cinta yang tulus terhadap anak. Aisha Nurra Datau sebagai Dara memberikan penampilan segar dan meyakinkan sebagai ibu yang kembali setelah absen panjang—ia menangkap perasaan bersalah, ambisi, dan keinginan memperbaiki hubungan dengan baik. Chemistry keduanya terasa natural, terutama di adegan pertengkaran dan rekonsiliasi. Farrell Rafisqy sebagai Adam mencuri perhatian dengan akting anak yang gemas dan emosional—ia berhasil menyampaikan kebingungan anak kecil di tengah konflik orang tua tanpa terasa dipaksakan. Pemeran pendukung seperti Cut Mini Theo dan Arswendy Bening Swara menambah warna keluarga besar yang ikut campur. Secara keseluruhan, ensemble cast solid, dengan fokus kuat pada dinamika keluarga kecil yang membuat penonton mudah empati.
Elemen Cinta dan Konflik Rumah Tangga
Film ini unggul dalam menyajikan cinta yang tak saling mengerti: Bima dan Dara saling mencintai tapi sering bertabrakan karena perbedaan prioritas dan pengalaman hidup. Tema utama adalah komunikasi dalam pernikahan muda, pengorbanan orang tua, dan dampak konflik terhadap anak. Ada kritik halus terhadap ekspektasi sosial terhadap perempuan karir dan laki-laki sebagai pencari nafkah, serta pentingnya pengertian dua arah. Drama dibangun melalui dialog realistis dan momen intim seperti pertengkaran long take yang emosional, tanpa bergantung pada musik dramatis berlebih. Humor muncul dari situasi sehari-hari Adam yang lucu dan interaksi keluarga besar. Beberapa kritik menyebut cerita terlalu generic atau pacing lambat di tengah, tapi kekuatannya ada di kejujuran—film ini terasa seperti cermin bagi pasangan muda yang menghadapi realita rumah tangga. Cocok untuk ditonton bersama pasangan atau keluarga karena pesannya positif tentang usaha memperbaiki hubungan.
Kesimpulan
Dua Hati Biru adalah sekuel yang hangat dan realistis, berhasil melanjutkan kisah Bima dan Dara dengan kedalaman emosional yang lebih matang. Angga Yunanda dan Aisha Nurra Datau membawa chemistry kuat, sementara Farrell Rafisqy sebagai Adam jadi highlight yang menyentuh. Meski tidak sempurna dan kadang terasa lambat, film ini sukses menyajikan cinta yang tak saling mengerti dengan cara jujur dan relatable, membuat penonton merenung tentang komunikasi dan pengorbanan dalam rumah tangga. Bagi yang menyukai drama keluarga seperti Noktah Merah Perkawinan, ini tontonan yang pas. Skor keseluruhan: 7.5/10—film yang menyentuh hati tentang perjuangan pasangan muda membangun cinta yang saling mengerti.