Review Film Driving Miss Daisy

review-film-driving-miss-daisy

Review Film Driving Miss Daisy. Driving Miss Daisy tetap menjadi salah satu film paling hangat dan bermakna tentang persahabatan lintas ras dan usia yang pernah dibuat. Dirilis pada 1989, karya ini berhasil memenangkan empat Oscar termasuk Film Terbaik, dan hingga kini masih sering dijadikan referensi ketika membahas hubungan antarmanusia yang tumbuh dari ketidakcocokan menjadi kedekatan tulus. Cerita berpusat pada Daisy Werthan, seorang janda Yahudi berusia 72 tahun yang keras kepala di Atlanta tahun 1948, dan Hoke Colburn, sopir kulit hitam yang disewa putranya setelah Daisy mengalami kecelakaan kecil. Apa yang dimulai sebagai hubungan majikan dan pekerja perlahan berubah menjadi ikatan yang dalam selama lebih dari 25 tahun. Film ini tidak bergantung pada konflik besar atau drama berlebihan; kekuatannya justru terletak pada momen-momen kecil yang terasa sangat manusiawi. BERITA OLAHRAGA

Penampilan yang Menjadi Fondasi Emosional: Review Film Driving Miss Daisy

Jessica Tandy sebagai Daisy dan Morgan Freeman sebagai Hoke memberikan penampilan yang luar biasa dan saling melengkapi. Tandy memerankan Daisy sebagai wanita yang awalnya dingin, rasis secara halus, dan sangat mandiri—ia menolak sopir baru dengan alasan “saya bisa mengurus diri sendiri”. Namun seiring waktu, melalui ekspresi mata yang mulai melunak dan nada bicara yang semakin akrab, Tandy menunjukkan bagaimana prasangka lama perlahan terkikis oleh kebersamaan sehari-hari. Penampilan ini membawanya memenangkan Oscar Aktris Utama Terbaik di usia 80 tahun, sebuah pencapaian yang langka.

Morgan Freeman sebagai Hoke adalah keseimbangan sempurna: sabar, bijaksana, tapi tidak pernah kehilangan harga diri. Ia tidak berusaha “mendidik” Daisy secara langsung; ia hanya ada, melakukan tugasnya dengan tenang, dan membiarkan waktu serta kebaikan kecilnya yang berbicara. Interaksi mereka—dari perdebatan kecil tentang kecepatan mobil hingga momen diam saat Hoke membantu Daisy makan di akhir hidupnya—terasa begitu alami sehingga penonton ikut merasakan kedekatan itu tumbuh. Dan Aykroyd sebagai Boolie, putra Daisy, juga memberikan dukungan yang pas: seorang anak yang mencintai ibunya tapi sering kali kehabisan kesabaran menghadapi sifat keras kepalanya.

Penggambaran Hubungan yang Berkembang Secara Perlahan: Review Film Driving Miss Daisy

Film ini berhasil menghindari jebakan klise “persahabatan lintas ras yang instan”. Perubahan sikap Daisy terhadap Hoke terjadi sangat lambat dan realistis—dari ketidakpercayaan, lalu ketergantungan, hingga akhirnya rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam. Adegan-adegan kecil menjadi yang paling berkesan: saat Hoke mengajari Daisy cara mengemudi lagi, saat mereka berbagi makanan di mobil selama perjalanan panjang, atau ketika Daisy mengakui di usia 90-an bahwa Hoke adalah “satu-satunya teman terbaiknya”. Tidak ada adegan besar di mana mereka saling memaafkan secara dramatis; perubahan terjadi melalui rutinitas sehari-hari, percakapan ringan, dan kehadiran yang konsisten.

Latar belakang era 1948–1973 di Georgia Selatan juga ditampilkan dengan halus: ada ketegangan rasial, pembakaran sinagoge, dan perubahan sosial besar seperti gerakan hak sipil, tapi semuanya dilihat melalui perspektif pribadi Daisy dan Hoke. Film ini tidak memaksakan pesan politik; ia membiarkan peristiwa sejarah menjadi latar yang memperkaya hubungan mereka.

Dampak Emosional dan Pesan yang Ditinggalkan

Driving Miss Daisy tidak berusaha membuat penonton menangis dengan adegan manipulatif. Emosinya datang dari akumulasi momen kecil yang terasa sangat manusiawi: senyum tipis Daisy saat Hoke menggodanya, tatapan Hoke yang penuh kesabaran saat Daisy marah, atau keheningan mereka di akhir ketika Daisy sudah sangat tua dan rapuh. Adegan penutup di panti jompo—saat Hoke datang mengunjungi Daisy yang sudah tidak ingat banyak hal—menjadi salah satu momen paling mengharukan karena sederhana tapi sangat dalam.

Pesan utama film ini adalah bahwa persahabatan sejati bisa tumbuh di mana saja, bahkan dari hubungan yang awalnya penuh ketidakcocokan dan prasangka. Usia, ras, dan latar belakang tidak menjadi penghalang ketika ada kesediaan untuk saling menghormati dan hadir bagi satu sama lain. Film ini juga mengingatkan bahwa di akhir hidup, yang paling berarti bukan kekayaan atau status, melainkan orang-orang yang tetap ada di sisi kita.

Kesimpulan

Driving Miss Daisy adalah film yang sederhana tapi sangat kuat dalam menyampaikan pesan tentang persahabatan, penerimaan, dan martabat di usia senja. Penampilan luar biasa dari Jessica Tandy dan Morgan Freeman, ditambah naskah yang halus serta penyutradaraan yang penuh perhatian, membuat film ini tetap relevan hingga sekarang. Ia tidak menawarkan drama berlebihan atau akhir yang terlalu manis; sebaliknya, ia memberikan potret realistis tentang bagaimana hubungan bisa berkembang secara perlahan melalui waktu, kesabaran, dan kebaikan kecil sehari-hari. Di tengah banyak film yang menggambarkan hubungan lintas ras dengan cara dramatis, Driving Miss Daisy memilih jalan yang lebih tenang tapi jauh lebih menyentuh. Film ini bukan sekadar cerita tentang dua orang tua—ia adalah pengingat bahwa cinta dan persahabatan sejati sering kali tumbuh dari hal-hal yang paling biasa, dan itulah yang membuatnya abadi.

BACA SELENGKAPNYA DI..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *