Review Film Demon Slayer Infinity Castle: Arc Terakhir Epik? Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle yang resmi tayang sejak akhir Desember 2025 langsung jadi salah satu film anime paling dinanti dan dibicarakan di awal 2026. Film trilogi pertama ini (bagian pertama dari tiga bagian) mengadaptasi arc Infinity Castle dari manga, dengan fokus pada pertempuran terakhir melawan Muzan Kibutsuji dan para Upper Moon. Disutradarai Haruo Sotozaki, film berdurasi 148 menit ini berhasil meraup lebih dari US$320 juta secara global hingga Januari 2026, menjadikannya salah satu film anime terlaris sepanjang masa di luar Jepang. Rating Rotten Tomatoes mencapai 92% dari kritikus dan 95% dari penonton. Dengan animasi ufotable yang memukau, adegan pertarungan epik, dan emosi yang sangat kuat, banyak yang bilang ini penutup arc terakhir yang paling epik dalam sejarah Demon Slayer. Apakah film ini benar-benar layak disebut klimaks terbaik, atau ada bagian yang terasa kurang? INFO PROPERTI
Animasi dan Adegan Pertarungan yang Luar Biasa di Film Demon Slayer Infinity Castle
ufotable sekali lagi membuktikan bahwa mereka masih raja dalam hal animasi anime. Setiap frame di Infinity Castle terasa seperti lukisan bergerak—efek air, api, petir, dan darah yang mengalir sangat detail dan realistis. Adegan pertarungan melawan Upper Moon 1 Kokushibo, Upper Moon 2 Doma, dan Upper Moon 3 Akaza menjadi salah satu sequence action terbaik dalam sejarah anime—gerakan pedang yang cepat, efek darah yang menyembur, dan ekspresi wajah yang penuh emosi terasa sangat hidup. Bagian klimaks melawan Muzan di dimensi Infinity Castle penuh dengan perubahan ruang dan waktu yang gila—kamera bergerak dinamis mengikuti Tanjiro dan Hashira saat mereka berjuang melawan raja iblis. Warna merah darah kontras dengan biru gelap dimensi membuat setiap adegan terasa sangat dramatis. Musik Yuki Kajiura dan Go Shiina kembali dengan tema “Gurenge” versi baru yang menghantui dan epik, memperkuat rasa putus asa dan harapan sepanjang film.
Performa Suara dan Pengembangan Karakter Demon Slayer Infinity Castle: Review Film Demon Slayer Infinity Castle: Arc Terakhir Epik?
Natsuki Hanae sebagai Tanjiro Kamado memberikan penampilan vokal paling emosional sepanjang seri—suara Tanjiro yang bergetar saat melihat teman-temannya jatuh terasa sangat menyakitkan. Kana Hanazawa sebagai Nezuko, Yoshitsugu Matsuoka sebagai Inosuke, dan Akari Kitō sebagai Nezuko juga tampil sangat kuat—mereka berhasil membuat penonton ikut merasakan rasa takut, marah, dan tekad mereka. Hashira seperti Giyu Tomioka (Takahiro Sakurai), Sanemi Shinazugawa (Yoshitsugu Matsuoka), dan Gyomei Himejima (Tomokazu Seki) mendapat momen besar yang sangat menyentuh—terutama saat mereka mengorbankan diri untuk melindungi Tanjiro. Pengembangan karakter terasa sangat kuat—banyak penonton menangis saat melihat Hashira yang selama ini kuat akhirnya menunjukkan sisi rapuh mereka. Secara keseluruhan, performa suara cast ini jadi salah satu kekuatan terbesar film.
Kelemahan Pacing dan Adaptasi: Review Film Demon Slayer Infinity Castle: Arc Terakhir Epik?
Meski sangat epik, film ini punya kelemahan di pacing yang agak tidak merata. Babak tengah terasa sedikit lambat karena terlalu banyak fokus pada pertarungan satu lawan satu tanpa cukup variasi. Beberapa adegan flashback dan penjelasan mitologi terasa terburu-buru, terutama bagi penonton yang tidak mengikuti manga atau anime sebelumnya. Dibandingkan film Mugen Train yang sangat dinamis dan penuh aksi sepanjang durasi, Infinity Castle lebih lambat dan lebih fokus pada emosi serta pengorbanan—bagi sebagian penonton ini terasa lebih matang, tapi bagi yang mencari aksi nonstop, bisa terasa kurang greget. Ada juga kritik kecil bahwa endingnya terlalu terbuka dan kurang memberikan penutupan yang memuaskan untuk trilogi film ini.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia menyambut sangat emosional—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak sesi midnight yang penuh dan penonton yang keluar bioskop sambil menangis atau saling cerita momen paling menyentuh. Box office domestik sudah melewati 4 juta penonton, sementara global US$320 juta menunjukkan sukses komersial yang luar biasa untuk film anime. Di media sosial, klip adegan klimaks melawan Muzan dan momen pengorbanan Hashira jadi viral. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal pengorbanan, persahabatan, dan bagaimana trauma perang bisa membentuk karakter. Banyak yang bilang ini bukti bahwa Demon Slayer bisa tutup dengan cara yang sangat epik dan emosional. Bagian kedua dan ketiga dari trilogi film sudah diumumkan untuk 2026–2027.
Kesimpulan
Demon Slayer: Infinity Castle adalah penutup arc terakhir yang berhasil jadi sangat epik dan emosional. Visual animasi ufotable yang memukau, performa suara cast yang luar biasa, dan cerita pengorbanan yang menyentuh membuat film ini layak disebut salah satu anime terbaik 2025. Meski pacing tengah agak lambat dan ending terbuka, film ini tetap jadi tontonan yang sangat memuaskan bagi penggemar seri. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu sudah mengikuti Demon Slayer dari awal. Kalau suka Mugen Train, Entertainment District Arc, atau film anime emosional seperti Your Name, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen akhir yang mengharukan dan mata untuk visual Cybertron yang indah. Demon Slayer tutup buku dengan cara yang sangat epik—dan itulah yang membuatnya layak disebut arc terakhir terbaik. Layak dapat tempat spesial di daftar tontonan anime 2025–2026.