Review Film Borderlands: Adaptasi Game Gagal Total? Film Borderlands yang tayang sejak Agustus 2024 langsung menjadi salah satu adaptasi video game paling dikritik dan dibenci di tahun tersebut. Disutradarai Eli Roth dan dibintangi Cate Blanchett sebagai Lilith, Kevin Hart sebagai Roland, Jamie Lee Curtis sebagai Tannis, Jack Black sebagai suara Claptrap, Ariana Greenblatt sebagai Tiny Tina, dan Florian Munteanu sebagai Krieg, film ini gagal total di box office dengan pendapatan global hanya sekitar US$33 juta dari budget US$115 juta—salah satu kegagalan finansial terbesar adaptasi game sepanjang masa. Rating Rotten Tomatoes mencapai 10% dari kritikus dan 45% dari penonton, menjadikannya salah satu film dengan skor terendah di antara adaptasi video game besar. Dengan cerita yang berantakan, humor yang garing, dan eksekusi yang kacau, banyak yang bertanya: apakah Borderlands benar-benar adaptasi game yang gagal total, atau masih ada sisi positif yang tersembunyi? REVIEW WISATA
Cerita Berantakan dan Tone yang Tidak Konsisten di Film Borderlands: Review Film Borderlands: Adaptasi Game Gagal Total?
Film ini seharusnya mengadaptasi dunia Borderlands yang penuh humor absurd, kekerasan over-the-top, dan karakter-karakter eksentrik dari game Gearbox. Namun naskahnya terasa sangat lemah dan tidak tahu mau jadi apa. Cerita mengikuti sekelompok “Vault Hunter” yang mencari Vault legendaris di planet Pandora, tapi plotnya penuh lubang, karakter tidak berkembang, dan transisi antar adegan terasa acak. Tone film juga sangat bingung—ada saat-saat yang mencoba jadi komedi slapstick (Kevin Hart sebagai Roland), tapi langsung beralih ke adegan serius yang gagal emosional. Humornya sering jatuh ke level lelucon fisik murahan dan dialog yang terasa dipaksakan. Banyak penggemar game merasa film ini tidak menangkap esensi Borderlands: humor hitam, satire korporasi, dan kekacauan yang cerdas. Malah terasa seperti campuran antara Guardians of the Galaxy versi murahan dan film petualangan B-grade yang tidak tahu arah.
Performa Cate Blanchett dan Cast Lain di Film Borderlands: Review Film Borderlands: Adaptasi Game Gagal Total?
Cate Blanchett sebagai Lilith sebenarnya memberikan usaha terbaik yang bisa diberikan dalam situasi naskah seperti ini—ia tampil karismatik dan punya presence kuat, tapi karakternya ditulis sangat datar dan tidak punya arc yang jelas. Kevin Hart sebagai Roland terasa sangat salah casting—karakternya seharusnya serius dan cool, tapi Hart memainkannya dengan gaya komedi khasnya yang membuat karakter jadi tidak masuk akal. Jamie Lee Curtis sebagai Tannis terasa underutilized dan hanya jadi comic relief yang dipaksakan. Jack Black sebagai suara Claptrap memang lucu, tapi terlalu sering muncul hingga jadi mengganggu. Ariana Greenblatt sebagai Tiny Tina dan Florian Munteanu sebagai Krieg juga tidak diberi ruang cukup untuk bersinar—mereka lebih terasa seperti elemen dekorasi daripada karakter utama. Secara keseluruhan, cast berbakat ini terbuang sia-sia karena naskah dan sutradara yang tidak tahu cara memanfaatkan mereka.
Kelemahan Produksi dan Dampak Box Office
Produksi film ini terasa sangat kacau—efek visual CGI untuk monster dan lingkungan Pandora terlihat murahan dan tidak konsisten. Banyak adegan action terasa datar dan kurang kreatif, padahal game Borderlands terkenal dengan senjata gila dan pertarungan yang over-the-top. Tone film juga tidak pernah menemukan keseimbangan antara komedi, action, dan drama—semuanya terasa setengah-setengah. Dampak box office sangat buruk: dengan budget US$115 juta plus marketing, film ini rugi besar dan menjadi salah satu kegagalan terbesar adaptasi game setelah Super Mario Bros. (1993) atau Assassin’s Creed (2016). Banyak penggemar game merasa dikhianati karena film ini tidak menangkap semangat absurd dan humor khas Borderlands—malah terasa seperti produk studio yang tidak paham materi aslinya.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang sudah menonton film ini mayoritas kecewa—banyak yang bilang “tidak seperti game sama sekali” dan merasa tertipu oleh ekspektasi tinggi dari cast besar. Di media sosial, meme dan kritik keras terhadap cerita, humor, dan eksekusi membanjiri diskusi. Banyak penggemar game menilai ini sebagai adaptasi terburuk sepanjang masa. Film ini juga memicu perdebatan besar soal adaptasi video game—apakah Hollywood masih bisa membuat adaptasi yang baik, atau mereka terus gagal memahami esensi game. Banyak yang bilang kegagalan ini bisa jadi pelajaran untuk proyek adaptasi selanjutnya.
Kesimpulan
Borderlands adalah adaptasi game yang gagal total di hampir semua aspek. Cerita berantakan, tone tidak konsisten, performa cast terbuang sia-sia, dan eksekusi visual yang mengecewakan membuat film ini terasa seperti produk studio yang tidak paham materi aslinya. Meski ada beberapa momen lucu dan visual warna-warni yang menarik, film ini tidak berhasil menangkap semangat absurd dan humor khas Borderlands. Worth it? Tidak—kecuali kamu ingin melihat kegagalan adaptasi game yang sangat mengecewakan. Kalau kamu penggemar game Borderlands, lebih baik skip saja dan main game-nya lagi. Film ini bukan hanya gagal—ia jadi contoh klasik bagaimana adaptasi bisa salah total. Sayang sekali untuk cast sekelas Cate Blanchett dan Kevin Hart yang terbuang di proyek seperti ini.