Review Film Barbie: Feminisme di Dunia Plastik. Barbie (2023) karya Greta Gerwig tetap jadi salah satu film paling berpengaruh dan dibicarakan hingga sekarang. Film ini bukan sekadar adaptasi mainan Mattel—ini adalah komedi satir cerdas yang menyamarkan pesan feminisme kuat dalam dunia plastik pink yang sempurna. Dengan Margot Robbie sebagai Barbie Stereotypical dan Ryan Gosling sebagai Ken yang ikonik, film ini meraup lebih dari $1,4 miliar di box office global, memenangkan 8 nominasi Oscar (termasuk Best Picture), dan jadi fenomena budaya yang memicu diskusi tentang gender, identitas, dan patriarki. Di balik tawa dan visual eye-candy, Barbie berhasil menyampaikan feminisme yang relatable, lucu, tapi tajam—membuat penonton tertawa sambil merenung. MAKNA LAGU
Sinopsis dan Perjalanan dari Barbieland ke Dunia Nyata: Review Film Barbie: Feminisme di Dunia Plastik
Cerita dimulai di Barbieland, utopia matriarkal di mana Barbie (Robbie) hidup sempurna: setiap hari adalah hari terbaik, semua Barbie sukses, dan Ken (Gosling) hanya aksesoris. Tapi Barbie tiba-tiba mengalami krisis eksistensial—pikirannya tentang kematian, selulit, dan kaki datar—membuatnya “rusak”. Dengan bantuan Weird Barbie (Kate McKinnon), ia pergi ke dunia nyata untuk mencari gadis yang memainkannya dan memperbaiki diri.
Di Los Angeles, Barbie bertemu Gloria (America Ferrera), karyawan Mattel yang sedang mengalami midlife crisis, dan putrinya Sasha (Ariana Greenblatt) yang kritis terhadap Barbie sebagai simbol patriarki. Sementara itu, Ken menemukan patriarki di dunia nyata dan membawanya kembali ke Barbieland, mengubah utopia menjadi “Kendom” yang penuh kuda, bir, dan dominasi laki-laki. Konflik klimaks terjadi saat Barbie, Gloria, dan para Barbie lain berjuang mengembalikan keseimbangan—bukan dengan mengalahkan Ken, tapi dengan membuatnya memahami nilai dirinya sendiri.
Margot Robbie dan Ryan Gosling: Duo yang Sempurna: Review Film Barbie: Feminisme di Dunia Plastik
Margot Robbie membawa Barbie dengan campuran polos, cerdas, dan emosional yang pas. Dari Barbie yang selalu bahagia jadi makhluk yang rapuh dan akhirnya sadar diri, transisinya terasa alami dan menyentuh. Adegan dia menangis di halte bus karena merasakan emosi manusia jadi salah satu momen paling kuat. Ryan Gosling sebagai Ken mencuri perhatian—performanya kocak, sedih, dan relatable. Lagu “I’m Just Ken” jadi viral karena Gosling menyanyikannya dengan penuh jiwa, mengubah Ken dari sidekick jadi simbol insecurity laki-laki dalam patriarki.
America Ferrera memberikan monolog ikonik tentang tekanan perempuan yang “mustahil tapi harus dilakukan”—pidato yang banyak dikutip sebagai inti feminisme film ini. Kate McKinnon sebagai Weird Barbie jadi comic relief terbaik, sementara Will Ferrell sebagai CEO Mattel menambah satir lucu terhadap korporasi.
Pesan Feminisme yang Tajam tapi Mudah Dicerna
Barbie sukses karena tidak preachy. Feminisme disampaikan lewat humor: Barbieland sebagai dunia di mana perempuan berkuasa tapi Ken merasa tak punya identitas, dunia nyata di mana patriarki membuat perempuan merasa tak cukup. Film ini kritik Barbie sebagai simbol kecantikan sempurna sekaligus puji sebagai inspirasi perempuan sukses. Endingnya empowering: Barbie memilih menjadi manusia, bukan tetap boneka, dan Ken belajar bahwa ia lebih dari “Kenough”.
Visual pink bombastis, kostum ikonik, dan musik dari Mark Ronson & Andrew Wyatt (termasuk “Dance the Night” Dua Lipa) bikin film ini terasa seperti pesta. Tapi di balik itu, ada lapisan dalam tentang identitas gender, ekspektasi masyarakat, dan pentingnya empati antar gender.
Kesimpulan
Barbie adalah film yang brilian karena bisa jadi blockbuster sambil menyampaikan pesan feminisme yang kuat tanpa terasa menggurui. Greta Gerwig berhasil mengubah mainan plastik jadi cermin masyarakat: dunia sempurna yang ternyata rapuh, dan perjuangan perempuan yang masih relevan. Margot Robbie dan Ryan Gosling jadi duo legendaris—satu membawa kekuatan, satu membawa humor dan kerapuhan.
Di tengah tren film superhero dan franchise berat, Barbie muncul sebagai angin segar: lucu, cantik, dan mendalam. Ia bukan cuma tentang boneka—ini tentang menjadi manusia di dunia yang penuh ekspektasi. Feminisme di dunia plastik ternyata sangat nyata, dan film ini membuktikannya dengan cara paling menyenangkan. Jika belum nonton ulang, saatnya—karena Barbie masih terasa segar dan penting hingga sekarang.