Review Film Ferrari: Balapan yang Menegangkan. Film Ferrari (2023) karya sutradara Michael Mann tetap menjadi salah satu karya paling intens dan autentik dalam genre biografi olahraga hingga awal 2026. Dibintangi Adam Driver sebagai Enzo Ferrari dan Penélope Cruz sebagai Laura Ferrari, film berdurasi 130 menit ini berfokus pada tahun 1957—saat Enzo berjuang mempertahankan perusahaan otomotifnya yang hampir bangkrut sambil mempersiapkan tim Scuderia Ferrari untuk balapan Mille Miglia yang legendaris. Dirilis secara luas pada Desember 2023, Ferrari meraih pujian luas karena rekonstruksi balapan yang realistis, penampilan kuat Adam Driver, dan penggambaran hubungan rumit Enzo dengan istrinya. Meski tidak masuk nominasi Oscar utama, film ini tetap menjadi referensi penting bagi penggemar motorsport dan penggemar drama biografi. MAKNA LAGU
Rekonstruksi Balapan dan Ketegangan Visual: Review Film Ferrari: Balapan yang Menegangkan
Michael Mann, yang dikenal dengan film action-thriller seperti Heat dan Collateral, membawa pendekatan serupa ke dunia balap mobil. Ferrari bukan sekadar cerita tentang Enzo Ferrari sebagai visioner otomotif, melainkan tentang tekanan hidup-mati di balik setiap balapan. Puncak film adalah rekonstruksi balapan Mille Miglia 1957 yang berlangsung selama hampir 20 menit—salah satu adegan balap paling menegangkan dalam sejarah perfilman.
Adegan tersebut digarap dengan campuran kamera on-board, CGI minimalis, dan efek praktis yang sangat realistis. Mann menggunakan suara mesin V12 Ferrari yang asli, getaran mobil, dan perspektif dari dalam kokpit untuk membuat penonton merasakan kecepatan 250 km/jam di jalan raya Italia yang sempit dan berbahaya. Tidak ada slow-motion berlebihan atau musik dramatis yang memaksa; ketegangan dibangun melalui realisme suara, kamera yang goyang, dan potongan cepat yang membuat penonton ikut merasakan risiko nyata yang dihadapi para pembalap.
Penampilan Adam Driver dan Penélope Cruz: Review Film Ferrari: Balapan yang Menegangkan
Adam Driver sebagai Enzo Ferrari memberikan penampilan yang sangat terkendali namun penuh intensitas. Ia berhasil menangkap sisi Enzo yang dingin, ambisius, dan penuh rasa bersalah—seorang pria yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada dengan manusia. Enzo digambarkan bukan sebagai pahlawan sempurna, melainkan sebagai sosok yang egois, keras kepala, dan terkadang kejam dalam mengejar kemenangan.
Penélope Cruz sebagai Laura Ferrari mencuri perhatian dengan peran yang kuat dan emosional. Laura bukan sekadar “istri pendukung”; ia adalah mitra bisnis yang tegas, pemegang saham mayoritas perusahaan, dan perempuan yang berjuang mempertahankan pernikahan di tengah perselingkuhan Enzo. Chemistry Driver dan Cruz terasa sangat nyata, terutama di adegan-adegan konfrontasi rumah tangga yang penuh amarah tapi tetap penuh cinta.
Tema Utama dan Pendekatan Emosional
Ferrari bukan hanya tentang balapan mobil; ini adalah potret tentang ambisi yang menghancurkan, rasa bersalah, dan harga yang harus dibayar demi kejayaan. Film ini menyoroti bagaimana Enzo Ferrari mengorbankan keluarga dan kemanusiaannya demi merek yang ia bangun, serta dampak tragedi (kematian anak dan pembalap) terhadap dirinya. Mann tidak menghindari sisi gelap: Enzo digambarkan sebagai pria yang dingin terhadap kematian pembalapnya, tapi juga hancur secara pribadi.
Pendekatan visualnya sangat khas Mann: kamera handheld untuk adegan balap, warna-warna dingin dan kontras tinggi, serta penggunaan suara mesin yang sangat detail. Musik karya Daniel Pemberton mendukung tanpa mendominasi, sementara adegan-adegan intim di rumah Ferrari terasa hangat namun penuh ketegangan.
Kesimpulan
Ferrari adalah film yang intens, realistis, dan sangat manusiawi—menyajikan kisah Enzo Ferrari tidak sebagai legenda sempurna, melainkan sebagai pria penuh kontradiksi yang rela mengorbankan segalanya demi kejayaan di lintasan. Penampilan Adam Driver dan Penélope Cruz luar biasa, sementara rekonstruksi balapan Mille Miglia oleh Michael Mann menjadi salah satu adegan paling menegangkan dalam sejarah perfilman olahraga. Film ini bukan sekadar tentang kecepatan dan kemenangan; ia adalah potret tentang ambisi yang gelap, rasa bersalah, dan harga yang dibayar demi mimpi. Hingga 2026, Ferrari tetap relevan karena mengajak penonton bertanya: seberapa jauh seseorang rela pergi demi mencapai keabadian dalam karier, dan apa yang tersisa setelahnya? Film ini layak ditonton, terutama bagi penggemar motorsport, biografi, atau drama psikologis yang dalam. Ferrari bukan sekadar film balap—ia adalah tragedi manusia di balik kemegahan lintasan.