Review Film Ali

Review Film Ali

Review Film Ali. Film Ali yang dirilis pada tahun 2001 tetap menjadi salah satu potret paling mendalam tentang kehidupan Muhammad Ali, legenda tinju yang tidak hanya dikenal karena kekuatan pukulannya, tetapi juga karena keberaniannya di luar ring. Disutradarai dengan pendekatan yang intim namun epik, film ini mengikuti perjalanan Ali dari pemuda berbakat di Louisville hingga menjadi juara dunia kelas berat, sekaligus tokoh kontroversial yang menentang perang Vietnam dan diskriminasi rasial. Dengan latar belakang Amerika tahun 1960-an hingga 1970-an yang penuh gejolak, cerita ini tidak sekadar menampilkan pertarungan tinju spektakuler, melainkan juga perjuangan identitas, keyakinan, dan harga diri seorang pria kulit hitam di tengah masyarakat yang masih sangat rasis. Meski sudah berusia lebih dari dua dekade, film ini masih sering ditonton ulang karena berhasil menangkap esensi Muhammad Ali sebagai manusia kompleks—penuh karisma, kontroversi, dan keteguhan hati—yang membuatnya lebih dari sekadar atlet, melainkan simbol perlawanan dan inspirasi lintas generasi. INFO GAME

Perjalanan Karier dan Pertarungan Ikonik: Review Film Ali

Alur cerita dimulai dari masa muda Cassius Clay yang berbakat, menunjukkan bagaimana ia memenangkan medali emas Olimpiade 1960 sebelum berganti nama menjadi Muhammad Ali setelah memeluk Islam. Fokus kemudian beralih ke momen-momen krusial dalam kariernya: perebutan gelar melawan Sonny Liston yang mengejutkan dunia, pembelaan gelar berulang kali, hingga pertarungan legendaris melawan Joe Frazier dan George Foreman yang dikenal sebagai “The Rumble in the Jungle”. Setiap adegan tinju digambarkan dengan intensitas tinggi, menangkap kecepatan, strategi, dan daya tahan fisik Ali yang luar biasa, terutama gaya bertarungnya yang unik dengan gerakan kaki lincah dan pukulan cepat. Namun film ini tidak hanya berhenti pada kemenangan; ia juga menyoroti kekalahan pertamanya dari Frazier yang begitu menyakitkan, serta bagaimana Ali bangkit kembali dengan tekad yang lebih kuat. Pendekatan ini membuat penonton tidak hanya melihat pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan batin seorang juara yang terus diuji oleh tekanan dunia luar dan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap dirinya.

Perjuangan Pribadi dan Keyakinan Politik: Review Film Ali

Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah penggambaran bagaimana kehidupan pribadi Ali tidak bisa dipisahkan dari keyakinan politik dan agamanya. Penolakannya terhadap wajib militer saat Perang Vietnam—dengan alasan “I ain’t got no quarrel with them Viet Cong”—membuatnya kehilangan gelar juara dunia, lisensi tinju, dan hampir seluruh pendapatan selama beberapa tahun. Adegan pengadilan dan demonstrasi di jalanan menunjukkan betapa mahalnya harga yang dibayar Ali demi prinsip, sementara hubungannya dengan Nation of Islam dan Malcolm X menambah lapisan kompleksitas pada karakternya. Kehidupan pernikahannya yang penuh gejolak, terutama dengan istri pertamanya, juga ditampilkan secara jujur tanpa menghindari sisi gelapnya, termasuk perselingkuhan dan perceraian yang menyakitkan. Semua elemen ini digabungkan dengan sangat alami sehingga penonton memahami bahwa kebesaran Ali bukan hanya dari ring tinju, melainkan dari keberaniannya mempertahankan identitas di tengah tekanan sistem yang ingin membungkamnya. Pendekatan ini membuat film terasa lebih sebagai drama karakter daripada sekadar biopi olahraga biasa.

Penampilan Aktor dan Penggambaran Karakter

Peran utama menjadi salah satu penampilan paling mengesankan dalam sejarah perfilman olahraga, dengan aktor yang berhasil menangkap tidak hanya gaya bicara khas Ali—cepat, penuh percaya diri, dan puitis—tetapi juga kerentanan di balik topeng keberanian itu. Gerakan tubuh, ekspresi wajah, hingga cara berjalan dan berdansa di ring direplikasi dengan sangat teliti, membuat penonton sering lupa sedang menonton akting. Aktor pendukung juga memberikan kontribusi besar, terutama yang memerankan Joe Frazier, Malcolm X, dan Don King, yang masing-masing membawa nuansa berbeda dalam hubungan mereka dengan Ali—dari rivalitas sengit, persahabatan yang rumit, hingga manipulasi bisnis. Chemistry antar karakter terasa hidup, terutama dalam adegan konfrontasi verbal yang tajam dan penuh emosi. Secara keseluruhan, permainan akting yang autentik ini menjadi pondasi utama yang membuat cerita terasa sangat personal dan meyakinkan, seolah penonton benar-benar menyaksikan potongan hidup Muhammad Ali secara langsung.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Ali adalah film biografi yang berhasil menghindari jebakan klise genre olahraga sambil tetap memberikan penghormatan besar kepada sosok legendaris yang menjadi subjeknya. Ia tidak hanya merayakan kemenangan di ring, tetapi juga keberanian moral, pengorbanan pribadi, dan dampak sosial yang jauh melampaui tinju. Dengan ritme yang seimbang antara aksi intens dan momen reflektif, serta visual yang kuat dari era tersebut, film ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa kebesaran sejati sering kali lahir dari perjuangan melawan ketidakadilan, bukan hanya melawan lawan di depan mata. Bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa Muhammad Ali disebut sebagai “The Greatest”, tontonan ini masih menjadi pilihan terbaik—menggugah, menghibur, dan meninggalkan rasa hormat yang mendalam terhadap seorang pria yang mengubah dunia dengan tinjunya sekaligus dengan kata-katanya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *