Review Film Bumi Manusia: Kolonialisme yang Mendalam

Review Film Bumi Manusia: Kolonialisme yang Mendalam

Review Film Bumi Manusia: Kolonialisme yang Mendalam. Film Bumi Manusia yang tayang perdana 17 Agustus 2019 menjadi salah satu adaptasi sastra Indonesia paling ambisius dalam beberapa tahun terakhir. Disutradarai Hanung Bramantyo dan diangkat dari novel pertama tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, film ini membawa penonton ke akhir abad ke-19 di masa kolonial Belanda. Dengan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Aurora Ribero sebagai Annelies, dan Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia tidak hanya menceritakan kisah cinta terlarang, tetapi juga mengupas dalam-dalam soal penjajahan, diskriminasi rasial, dan perlawanan identitas pribumi. Enam tahun setelah rilis, film ini masih sering dibicarakan sebagai cermin bagaimana kolonialisme membentuk struktur sosial yang bertahan hingga kini. INFO GAME

Latar Sejarah yang Kuat dan Autentik: Review Film Bumi Manusia: Kolonialisme yang Mendalam

Bumi Manusia berlatar tahun 1898 di Jawa di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Minke, seorang pribumi cerdas yang bersekolah di HBS (sekolah elit untuk anak Eropa), mulai mempertanyakan ketidakadilan sistem kolonial setelah bertemu keluarga nyai di Wonokromo. Nyai Ontosoroh, seorang perempuan Jawa yang menjadi nyai (selir) seorang Belanda, digambarkan sebagai figur cerdas, tegas, dan penuh martabat meski posisinya direndahkan oleh hukum kolonial. Annelies, putri Nyai yang berdarah campuran, menjadi objek cinta Minke—namun juga korban hukum waris Belanda yang menjadikannya “milik” keluarga ayahnya yang Eropa murni.
Hanung Bramantyo berhasil menghidupkan suasana zaman itu melalui detil visual: kostum, arsitektur kolonial, kereta uap, hingga bahasa campur antara Melayu, Jawa, dan Belanda. Penggunaan bahasa Indonesia kuno dan dialek Jawa halus menambah kekuatan autentisitas. Film ini tidak sekadar menampilkan kemewahan kolonial, tetapi juga kontras tajam antara kehidupan pribumi miskin dan golongan priyayi yang “diterima” dalam sistem Belanda.

Akting dan Karakter yang Menyentuh: Review Film Bumi Manusia: Kolonialisme yang Mendalam

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke menunjukkan perkembangan karakter yang meyakinkan: dari pemuda naif yang bangga bisa masuk HBS, menjadi seseorang yang sadar akan ketidakadilan sistemik. Aurora Ribero sebagai Annelies berhasil menampilkan kerapuhan dan kepolosan yang membuat penonton ikut merasakan penderitaannya. Namun pencuri perhatian utama adalah Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh. Penampilannya begitu kuat dan penuh lapisan—marah yang terpendam, kecerdasan yang terpaksa disembunyikan, serta keteguhan hati seorang ibu. Adegan-adegan monolog Nyai tentang posisinya sebagai nyai menjadi salah satu momen paling mengguncang dalam film ini.
Peran pendukung seperti Winky Wiryawan sebagai Robert Mellema dan Chew Kin-Wah sebagai Herman Mellema juga memberikan warna kelam pada potret keluarga kolonial yang rapuh dan penuh konflik internal.

Kolonialisme sebagai Inti Narasi

Yang membuat Bumi Manusia berbeda dari film sejarah lainnya adalah cara film ini menjadikan kolonialisme bukan sekadar latar, melainkan karakter utama yang menentukan nasib semua orang. Hukum kolonial yang membedakan hak waris berdasarkan ras, pendidikan yang diskriminatif, dan status nyai yang tidak diakui secara hukum menjadi sorotan tajam. Film ini juga menyinggung awal kesadaran nasional: bagaimana bacaan-bacaan Barat yang dipelajari Minke justru membuka matanya tentang hak asasi dan kebebasan.
Meski ada kritik bahwa beberapa bagian terasa terlalu teatrikal atau dialog kadang terlalu panjang, pesan inti film tetap kuat: kolonialisme bukan hanya penjajahan fisik, tetapi juga penghancuran martabat, identitas, dan hak dasar manusia. Nyai Ontosoroh yang berkata “Aku ini budak karena hukum” menjadi salah satu dialog paling ikonik dan sering dikutip hingga kini.

Kesimpulan

Bumi Manusia tetap menjadi salah satu film Indonesia paling bermakna yang berhasil mengangkat karya sastra besar ke layar lebar dengan kualitas yang layak. Meski tidak sempurna dalam tempo dan pacing, film ini berhasil menyampaikan kedalaman pemikiran Pramoedya tentang kolonialisme, rasisme sistemik, dan perjuangan membangun kesadaran diri sebagai bangsa. Penampilan Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh dan visual yang kaya membuatnya layak ditonton ulang, terutama bagi generasi muda yang ingin memahami akar ketimpangan sosial di Indonesia. Di tengah minimnya film sejarah berkualitas tinggi, Bumi Manusia masih berdiri tegak sebagai karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak kita berpikir ulang tentang sejarah dan identitas bangsa.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *