Review Film The Corpse of Anna Fritz. Di akhir 2025, film The Corpse of Anna Fritz (2015) masih sering jadi bahan diskusi sebagai thriller Spanyol yang berani dan disturbing. Disutradarai Hèctor Hernández Vicens, film ini ikuti tiga pemuda yang masuk ke ruang mayat untuk lihat tubuh aktris terkenal Anna Fritz yang baru meninggal. Apa yang awalnya hanya rasa penasaran berubah jadi tindakan mengerikan saat mereka putuskan lakukan nekrofilia. Dengan setting terbatas di morgue dan durasi sekitar 76 menit, film ini andalkan ketegangan psikologis, twist besar, dan tema gelap untuk beri pengalaman horor yang tak nyaman tapi sulit dilupain. INFO SLOT
Plot dan Twist yang Membuat Tegang: Review Film The Corpse of Anna Fritz
Cerita dimulai cepat: Anna Fritz, aktris cantik dan populer, ditemukan meninggal mendadak. Tubuhnya dibawa ke rumah sakit, di mana Pau, petugas morgue pemalu, foto dan kirim ke dua temannya, Ivan dan Javi. Mereka datang untuk lihat langsung, terpesona kecantikan tubuh itu. Ivan, yang paling agresif, usul lakukan hubungan seksual dengan mayat, dan Pau ikut—sementara Javi awalnya tolak tapi tak hentikan. Twist besar datang saat Anna tiba-tiba sadar: ia tak benar-benar mati, tapi dalam kondisi lumpuh sementara (mungkin locked-in syndrome atau efek obat). Ketiga pemuda panik—mereka harus pilih laporkan dan hadapi tuduhan pemerkosaan, atau bunuh Anna untuk tutupi jejak. Alur penuh debat panik, usaha bunuh, dan balas dendam akhir yang brutal, bikin penonton tegang terus tanpa jeda.
Akting dan Atmosfer yang Intens: Review Film The Corpse of Anna Fritz
Akting jadi kekuatan utama, terutama Alba Ribas sebagai Anna Fritz yang harus berbaring diam hampir sepanjang film tapi sampaikan teror lewat mata dan ekspresi halus—sangat meyakinkan dan bikin merinding. Cristian Valencia sebagai Ivan beri vibe sociopath karismatik yang menjijikkan, sementara Albert Carbó sebagai Pau tunjukkan perubahan dari pemalu jadi ikut-ikutan jahat. Bernat Saumell sebagai Javi beri sedikit moral compass, tapi tetap lemah. Atmosfer morgue sempit, dingin, dan gelap ciptakan claustrophobia kuat—suara pintu laci mayat, lampu redup, dan keheningan malam tambah rasa terisolasi. Film ini minim gore berlebih, tapi adegan nekrofilia dan kekerasan cukup disturbing karena realistis dan tak sensasional.
Tema Gelap dan Kontroversi
Film ini eksplor tema berat: objektifikasi selebriti (Anna diperlakukan seperti trofi bahkan setelah mati), batas moral manusia saat tak diawasi, serta konsekuensi impuls jahat. Ada kritik soal fetish terhadap tubuh wanita dan bagaimana ketenaran buat seseorang “milik publik”. Twist Anna sadar ubah film dari necrophilia horror jadi rape-revenge, tapi dengan perspektif korban yang powerless lama. Ending terbuka dan pahit—Anna balas dendam tapi terluka parah—tinggalkan pertanyaan soal siklus kekerasan. Banyak kritik bilang film terlalu exploitative atau karakter tak simpatik, tapi justru itu buat disturbing secara psikologis, bukan gore murahan.
Kesimpulan
The Corpse of Anna Fritz jadi thriller horor yang bold dan uncomfortable di akhir 2025, dengan plot twist cerdas, akting kuat, dan atmosfer tegang di setting minimalis. Cocok buat penggemar film disturbing seperti A Serbian Film atau Deadgirl, tapi versi lebih terkendali dan fokus psikologis. Meski tema nekrofilia dan kekerasan seksual buat kontroversial serta tak untuk semua orang, film ini berhasil beri pengalaman intens yang provokatif dan bikin mikir soal sisi gelap manusia. Rekomendasi untuk yang suka horor cerdas tanpa jump scare berlebih—tapi siap-siap merasa tak nyaman lama setelah kredit bergulir. Film pendek yang maksimalkan premis tabu jadi sesuatu yang memorable.