Review Film Melancholia. Di akhir 2025, ketika berita tentang benda langit raksasa yang mendekat Bumi sering jadi headline, Melancholia kembali naik ke permukaan seperti kenangan yang tak pernah benar-benar tenggelam. Dirilis tahun 2011, film ini bukan drama kiamat biasa. Ia adalah meditasi tenang tentang depresi berat, kehampaan hidup, dan bagaimana akhir dunia bisa terasa seperti pembebasan bagi sebagian orang. Dengan planet biru raksasa bernama Melancholia yang perlahan mendekat, film ini membagi dua babak kehidupan dua saudari: satu pesta pernikahan yang hancur dan satu malam terakhir yang anehnya damai. Hampir 15 tahun kemudian, Melancholia tetap jadi salah satu karya paling berani tentang kesehatan mental yang pernah difilmkan. INFO SLOT
Dua Babak, Dua Jiwa: Review Film Melancholia
Film dibuka dengan urutan slow-motion delapan menit yang seperti lukisan hidup: burung jatuh dari langit, Justine berakar ke tanah, golf course terbakar. Lalu masuk ke bagian “Justine”: hari pernikahan yang sempurna di estate mewah tapi berantakan total karena sang pengantin wanita tenggelam dalam depresi klinis. Bagian “Claire” membalik peran: Claire yang dulu rasional jadi panik menghadapi planet yang mendekat, sementara Justine justru tenang, bahkan bahagia. Kontras ini brutal tapi jujur — kadang orang yang sudah terbiasa hidup dengan kehampaan justru paling siap menghadapi kehancuran nyata.
Visual yang Menghipnotis dan Menghancurkan: Review Film Melancholia
Setiap frame terasa seperti mimpi buruk yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Planet Melancholia menggantung di langit seperti mata raksasa yang tak berkedip, semakin besar setiap malam. Kamera handheld yang biasanya bergetar di sini justru tenang, hampir statis, membuat penonton merasa terjebak di dalam gambar. Warna biru dingin mendominasi, cahaya lampu estate terasa palsu dibanding cahaya planet yang semakin ganas. Musik Wagner — bagian prelude Tristan und Isolde — diputar berulang sampai terasa seperti doa sekaligus ancaman. Semua ini menciptakan rasa sesak yang pelan-pelan menekan dada, persis seperti serangan panik yang tak pernah benar-benar pecah.
Depresi yang Tak Pernah Dibuat Indah
Justine bukan karakter yang “menderita dengan anggun”. Ia menghancurkan pernikahannya, menyakiti semua orang, tidur dengan orang asing di lapangan golf, lalu bilang “hidup itu jahat” dengan senyum datar. Film ini tak pernah meromantisasi depresi; ia memperlihatkan bagaimana penyakit itu membuat dunia terasa seperti kaca tebal yang memisahkan penderita dari orang lain. Di saat yang sama, ketika dunia benar-benar akan berakhir, Justine lah yang bisa duduk tenang di teras, merokok, dan berkata “Bumi itu jahat, tak ada yang akan merindukannya.” Itu bukan nihilisme murahan, tapi pernyataan paling jujur dari seseorang yang sudah lama berdamai dengan kegelapan dalam dirinya.
Akhir yang Sunyi dan Sempurna
Tanpa spoiler berlebih, klimaks Melancholia adalah salah satu ending paling tenang dan paling mengerikan dalam sejarah sinema. Tak ada ledakan, tak ada jeritan panjang. Hanya tiga orang di bawah langit yang semakin biru, sebuah “gua ajaib” dari kayu, dan suara yang perlahan lenyap. Penonton keluar dari film dengan perasaan kosong yang aneh — bukan sedih, bukan takut, tapi semacam penerimaan. Itulah kekuatan terbesar film ini: ia tak menawarkan harapan palsu, tapi juga tak meninggalkan rasa putus asa. Hanya kejujuran yang dingin.
Kesimpulan
Melancholia bukan film yang bisa ditonton sembarangan. Ia berat, lambat, dan tak memberi ruang untuk lari. Tapi justru karena itulah ia tetap relevan di tahun 2025 ini — saat banyak orang semakin terbuka bicara soal depresi, film ini sudah ada di sana lebih dulu, tanpa filter, tanpa maaf. Jika Anda pernah merasa dunia terlalu berat untuk dihadapi, atau justru merasa lega membayangkan semuanya selesai, film ini akan mengerti Anda lebih baik daripada kebanyakan orang di sekitar Anda. Tontonlah sendirian, volume keras, lampu mati. Dan biarkan planet biru itu mendekat.