Review Film Everything Everywhere All At Once. Di akhir 2025, ketika orang sudah lelah dengan sekuel raksasa dan formula superhero yang itu-itu saja, Everything Everywhere All At Once (2022) masih bertahan sebagai film yang paling sering direkomendasikan, ditonton ulang, dan diperdebatkan. Karya gila yang berhasil meraih tujuh piala Oscar termasuk Film Terbaik ini kini bukan lagi kejutan, melainkan patokan baru: ternyata film bisa benar-benar liar, emosional, lucu, dan mendalam sekaligus dalam 140 menit tanpa terasa berlebihan. BERITA TERKINI
Perjalanan Ibu Rumah Tangga Menjadi Pahlawan Multiverse: Review Film Everything Everywhere All At Once
Michelle Yeoh sebagai Evelyn Wang—ibu imigran yang sedang diaudit pajak, pernikahannya retak, hubungan dengan putrinya kacau—tiba-tiba harus menyelamatkan seluruh multiverse. Dari alam semesta di mana jari terbuat dari sosis panas sampai alam tempat manusia punya sosis itu sebagai jari, Evelyn belajar kung fu dengan cara paling absurd: mengganti sepatu, makan lip balm, bahkan memasukkan trofi ke tempat yang seharusnya tidak. Tapi di balik kegilaan visual itu, film ini sebenarnya tentang seorang ibu yang akhirnya melihat dirinya sendiri dan keluarganya dengan jelas untuk pertama kali. Transformasi Yeoh dari lelah sampai luar biasa adalah salah satu penampilan paling komplet dekade ini.
Keluarga yang Retak di Tengah Kekacauan Kosmik: Review Film Everything Everywhere All At Once
Hubungan Evelyn, suaminya Waymond (Ke Huy Quan), dan putrinya Joy/Jobu Tupaki (Stephanie Hsu) adalah jantung cerita. Waymond yang tampak lemah ternyata punya kekuatan terbesar: kebaikan yang tak pernah menyerah. Joy yang merasa tak pernah cukup di mata ibunya menjadi penutup emosional paling menghancurkan. Adegan batu di alam semesta sunyi—dua batu besar hanya duduk dan bicara—berhasil membuat jutaan orang menangis tanpa satu kata dialog yang rumit. Film ini membuktikan bahwa konflik terbesar manusia bukan kehancuran dunia, tapi “mengapa aku tidak pernah merasa cukup untukmu?”
Gila yang Terkontrol dan Inovasi Tanpa Batas
Dari luar terlihat seperti demam tinggi: pertarungan dengan dildo raksasa, dunia ala Ratatouille versi jari sosis, homage kung fu jadul, animasi pixar-style dalam satu adegan saja. Tapi semua kegilaan itu punya aturan ketat dan tujuan emosional. Setiap lompatan antar alam semesta mencerminkan penyesalan atau kemungkinan hidup yang tak dijalani Evelyn. Editing yang memusingkan, efek praktis murahan yang sengaja dipamerkan, dan transisi mulus antara genre membuat film ini terasa seperti naik roller coaster yang dirancang oleh jenius. Belum lagi bagel segalanya—benda paling absurd sekaligus paling filosofis yang pernah jadi villain.
Dampak yang Mengubah Permainan
Tiga tahun setelah rilis, film ini sudah mengubah banyak hal: memberi harapan pada sineas independen, membuka pintu lebar untuk aktor Asia dan Asia-Amerika, serta membuktikan bahwa penonton mau yang aneh asal jujur. Ke Huy Quan yang kembali berakting setelah puluhan tahun hiatus dan langsung menyapu semua penghargaan aktor pendukung jadi salah satu cerita comeback paling mengharukan. Di 2025, ketika studio besar masih ragu ambil risiko, karya ini tetap jadi pengingat: terkadang yang paling personal dan paling gila justru yang paling universal.
Kesimpulan
Everything Everywhere All At Once adalah film yang menolak diringkas, tapi selalu berhasil dirasakan. Ia lucu sampai ngakak, aneh sampai bingung, sedih sampai sesenggukan, dan pada akhirnya penuh harapan. Dalam dunia yang terasa semakin terpecah, film ini bilang satu hal sederhana: cukup dengan kebaikan kecil dan perhatian penuh, kita bisa menyelamatkan satu sama lain—dan mungkin seluruh alam semesta juga. Tonton lagi kalau kamu butuh diingatkan bahwa hidup ini memang absurd, tapi tetap layak diperjuangkan. Dengan atau tanpa sosis di jari.