Review Film Yi Yi. Rilis tahun 2000, Yi Yi (A One and a Two…) karya Edward Yang tetap jadi salah satu film paling tenang, paling dalam, dan paling menyentuh dalam sejarah sinema. Berdurasi hampir tiga jam, film ini ceritakan kehidupan keluarga biasa di Taipei: pernikahan, kelahiran, kematian, cinta pertama, krisis paruh baya—semuanya terjadi bersamaan dalam satu musim. Di 2025, Yi Yi masih sering disebut “film yang bikin orang diam 10 menit setelah kredit” karena kepekaannya menangkap hal-hal kecil yang biasanya kita lewatkan dalam hidup. REVIEW KOMIK
Cerita yang Mengalir seperti Kehidupan Sehari-hari: Review Film Yi Yi
NJ, ayah keluarga, menghadapi krisis perusahaan dan cinta lama yang muncul kembali di Tokyo. Istri Min-Min merasa hidupnya kosong dan lari ke retreat Buddha. Anak perempuan Ting-Ting jatuh cinta pertama kali sambil merasa bersalah atas koma neneknya. Anak laki-laki Yang-Yang, yang baru kelas tiga SD, mulai memotret bagian belakang kepala orang karena “mereka nggak bisa lihat sendiri”. Semua cerita berjalan paralel tanpa paksaan—seperti hidup beneran. Tidak ada twist besar, tidak ada klimaks dramatis; puncaknya justru di pidato Yang-Yang di acara sekolah dan NJ yang memilih jalan pulang. Ending dengan balon merah di langit Taipei adalah salah satu penutup paling lembut sekaligus paling menghancurkan.
Penampilan yang Terasa seperti Orang Beneran: Review Film Yi Yi
Wu Nien-jen sebagai NJ memberi penampilan paling understated tapi paling kuat—wajahnya penuh penyesalan tanpa satu kata berlebih. Elaine Jin sebagai Min-Min bikin penonton ikut sesak saat dia menangis di retreat. Kelly Lee sebagai Ting-Ting menangkap rasa bersalah dan cinta pertama remaja dengan begitu alami. Tapi bintang sejati adalah Jonathan Chang sebagai Yang-Yang—anak delapan tahun yang main tanpa akting, hanya hidup di depan kamera. Setiap ekspresi polosnya, dari dipukuli temen sampai memotret nyamuk mati, bikin hati terasa ditusuk pelan.
Visual dan Ritme yang Seperti Puisi
Kamera Christopher Doyle dan Yang sendiri penuh pantulan kaca, jendela, cermin—seolah kita selalu melihat hidup dari dua sisi. Taipei malam penuh neon tapi tetap sepi, hujan deras di gang sempit, lampu rumah sakit yang dingin—semua terasa hidup. Film ini hampir tanpa close-up; kebanyakan long shot yang bikin penonton jadi pengamat, bukan penonton biasa. Musik minimal, kadang hanya suara lift atau hujan. Ritmenya lambat, tapi setiap potongan terasa penting—seperti hidup yang kita jalani tanpa sadar.
Kelebihan, Kekurangan, dan Mengapa Masih Relevan
Kelebihan terbesar: kejujuran mutlak. Film ini nggak takut diam, nggak takut biasa, nggak takut menunjukkan bahwa hidup seringkali cuma serentetan momen kecil yang nggak kita hargai saat terjadi. Kekurangan? Bisa terasa terlalu lambat atau terlalu “biasa” buat yang suka plot besar. Tapi itulah poinnya—Yi Yi bukan film yang kamu tonton, tapi yang kamu alami.
Di 2025, Yi Yi terasa makin penting karena kita hidup di era yang terlalu cepat. Film ini mengingatkan: kadang jawaban atas pertanyaan besar hidup ada di hal-hal kecil—balon merah, foto nyamuk, atau pelukan nenek yang tak sadar.
Kesimpulan
Yi Yi adalah film yang nggak kasih jawaban, tapi bikin kamu bertanya hal yang benar. Setelah selesai, kamu akan merasa seperti baru pulang dari rumah lama yang sudah lama nggak dikunjungi. Tonton sendirian, di malam yang tenang, tanpa gangguan. Kamu akan keluar dari film ini sebagai orang yang sedikit lebih sabar, sedikit lebih lembut, dan sedikit lebih menghargai hidup yang sedang berjalan. Karena seperti kata Yang-Yang: “Film bikin hidup kita jadi dua kali lebih panjang.” Dan Yi Yi berhasil bikin hidup kita terasa jauh lebih berarti.