Review Film The Garden of Words

review-film-the-garden-of-words

Review Film The Garden of Words. Film animasi Jepang The Garden of Words (Kotonoha no Niwa), karya Makoto Shinkai, kembali menarik perhatian setelah penayangan ulang di bioskop Indonesia pada Agustus 2025, memperingati ulang tahun ke-12 sejak rilisnya pada 2013. Dengan durasi singkat 46 menit, film ini memukau penonton dengan visual memanjakan mata dan cerita emosional tentang koneksi manusia. Artikel ini akan mengupas makna film, alasan pembuatannya, serta sisi positif dan negatifnya berdasarkan pengamatan terkini. BERITA LAINNYA

Makna Dari Film Ini
The Garden of Words mengisahkan Takao Akizuki, remaja 15 tahun yang bercita-cita menjadi pembuat sepatu, dan Yukari Yukino, wanita misterius berusia 27 tahun, yang bertemu di taman Shinjuku Gyoen saat hujan. Keduanya membentuk ikatan emosional melalui percakapan puitis di bawah payung hujan, saling menyembuhkan luka batin. Film ini mengeksplorasi tema kesepian, pencarian identitas, dan hubungan antargenerasi yang tidak biasa. Makna utamanya terletak pada bagaimana koneksi singkat namun mendalam dapat mengubah hidup seseorang, dengan hujan sebagai simbol emosi yang terpendam dan penyembuhan. Puisi tanka dari Manyoshu yang diucapkan Yukari menambah lapisan filosofis tentang cinta dan kerinduan.

Kenapa Film Ini Bisa Dibuat
Makoto Shinkai menciptakan The Garden of Words sebagai eksperimen untuk mengeksplorasi emosi manusia dalam format singkat, setelah kesuksesan 5 Centimeters per Second (2007). Ia terinspirasi oleh pengalaman pribadinya di Tokyo, di mana hujan sering menjadi latar kehidupan sehari-hari, dan taman Shinjuku Gyoen sebagai tempat pelarian. Shinkai ingin menggambarkan hubungan yang tidak konvensional, menantang norma sosial tentang usia dan status. Didukung oleh CoMix Wave Films, ia menghadirkan animasi dengan detail luar biasa, terutama pada tetesan hujan dan dedaunan. Kolaborasi dengan komposer Daisuke Kashiwa dan pengisi suara seperti Miyu Irino dan Kana Hanazawa memperkuat nuansa emosional. Rilis pada 2013 ini menandai langkah Shinkai menuju gaya visual yang lebih realistis sebelum Your Name.

Sisi Positif dan Negatif Dari Film Ini
Sisi positif The Garden of Words adalah visualnya yang menakjubkan, dengan animasi hujan dan taman yang begitu realistis hingga terasa seperti lukisan hidup. Cerita yang padat dan puitis berhasil menyampaikan emosi mendalam dalam waktu singkat, didukung oleh dialog yang penuh makna dan musik yang menghanyutkan. Hubungan antara Takao dan Yukari digambarkan dengan sensitif, menghindari stereotip romansa. Namun, kelemahannya adalah durasi yang terlalu singkat, membuat pengembangan karakter, terutama latar belakang Yukari, terasa kurang mendalam. Beberapa penonton juga menganggap hubungan antargenerasi ini kontroversial, meski Shinkai menangani tema ini dengan hati-hati. Akhir yang terbuka dapat terasa kurang memuaskan bagi mereka yang mengharapkan resolusi jelas.

Kesimpulan: Review Film The Garden of Words
The Garden of Words adalah karya Makoto Shinkai yang memikat dengan visual luar biasa dan cerita emosional tentang koneksi manusia di tengah kesepian. Meski terinspirasi dari pengalaman pribadi, film ini resonan secara universal dengan tema penyembuhan dan kerinduan. Keunggulan animasi dan narasi puitis mengatasi kelemahan seperti durasi singkat dan ambiguitas akhir. Penayangan ulang pada 2025 membuktikan daya tarik abadi film ini, mengajak penonton untuk menghargai keindahan dalam hubungan singkat dan momen-momen kecil yang mengubah hidup.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *