Review Film A Normal Woman. Jakarta, 1 Agustus 2025 – A Normal Woman, film thriller psikologis Indonesia yang tayang di Netflix pada 24 Juli 2025, menjadi perbincangan hangat. Disutradarai Lucky Kuswandi dan ditulis bersama Andri Cung, film berdurasi 110 menit ini dibintangi Marissa Anita sebagai Milla, seorang sosialita yang hidupnya tampak sempurna namun perlahan runtuh akibat penyakit misterius. Dengan elemen body horror dan narasi tentang tekanan sosial, film ini menawarkan pengalaman intens yang memadukan drama keluarga, trauma masa lalu, dan kritik terhadap standar kecantikan. Di Indonesia, A Normal Woman mendapat sorotan karena keberaniannya mengangkat isu sensitif, meski menuai kritik atas eksekusi ceritanya yang kurang rapi. BERITA LAINNYA
Arti dan Makna Dari Film Ini
A Normal Woman menggali tema identitas, trauma, dan beban hidup dalam topeng kesempurnaan. Milla, yang terjebak dalam peran istri dan menantu ideal, mencerminkan tekanan yang dihadapi banyak perempuan urban: harus tampil sempurna di mata masyarakat. Penyakit misteriusnya—ruam kulit, halusinasi, dan muntah benda asing—menjadi metafora untuk pemberontakan tubuh terhadap kehidupan yang menyesakkan. Film ini juga menyinggung relasi mertua-istri yang toksik dan dampak media sosial yang memperkuat standar kecantikan tak realistis. Melalui perjalanan Milla, film ini menyampaikan pesan bahwa kebebasan sejati hanya bisa diraih dengan menghadapi trauma dan merangkul jati diri, meski dengan harga yang mahal.
Komentar Penonton Terhadap Film Ini
Respons penonton terhadap A Normal Woman sangat beragam. Banyak yang memuji akting Marissa Anita, yang mampu menghidupkan transformasi Milla dari istri patuh menjadi wanita yang penuh luka dengan intensitas emosional. Visual mencekam dan elemen body horror, seperti adegan Milla menggaruk kulitnya, juga mendapat pujian karena menambah ketegangan. Di media sosial, sebagian penonton merasa terhubung dengan isu tekanan sosial yang diangkat, terutama relasi keluarga yang toksik. Namun, banyak juga yang kecewa dengan alur cerita, terutama twist di pertengahan yang dianggap janggal dan merusak ketegangan. Beberapa menyebut akhir cerita terlalu absurd, dengan transisi emosi yang terasa dipaksakan, membuat film ini terasa “nanggung” meski premisnya menjanjikan.
Sisi Positif dan Negatif dari Film Ini
Secara positif, A Normal Woman menonjol berkat performa Marissa Anita yang memukau, didukung oleh Widyawati sebagai mertua yang manipulatif dan Mima Shafa sebagai Angel, putri yang penuh empati. Visualnya elegan, dengan sinematografi yang memperkuat suasana keluarga kaku namun penuh rahasia. Elemen body horror, meski tidak berlebihan, efektif menciptakan ketidaknyamanan yang sesuai dengan tema. Musik latar juga mendukung nuansa tegang. Di sisi negatif, naskah film ini lemah, dengan twist cerita yang terasa tidak organik dan karakter pendukung seperti Jonathan dan Erika yang kurang tergali. Plot hole dan transisi emosi yang kaku membuat beberapa bagian terasa datar. Durasi yang sedikit panjang juga membuat pacing di paruh kedua tersendat, mengurangi dampak emosional.
Kesimpulan: Review Film A Normal Woman
A Normal Woman adalah thriller psikologis yang ambisius, mengangkat isu relevan seperti tekanan sosial dan trauma dengan visual dan akting yang kuat. Meski berhasil menciptakan ketegangan dan menyampaikan pesan tentang pencarian jati diri, eksekusi ceritanya kurang rapi, dengan twist yang janggal dan karakter pendukung yang lemah. Film ini cocok untuk penggemar drama gelap yang tak keberatan dengan narasi yang sedikit berantakan. Bagi yang mencari pengalaman sinematik yang memicu refleksi, A Normal Woman tetap layak ditonton, terutama untuk mengapresiasi performa Marissa Anita dan keberaniannya menyinggung tabu sosial.